Jalan Amblas, Salahkah Alam?

Jakarta, 17 September 2010

Jalan R.E. Martadinata amblas. Jatuh sedalam sekitar 7 meter. Terjadi pukul 02.00 dini hari (beberapa hari lalu). Alhamdulillah tidak memakan korban jiwa.

Kebanyakan komentar yang keluar dari para ahli, pengamat, komentator, menteri, semuanya selalu mengatakan alasan abrasi, faktor alam, jalan yang sudah tua, selama 30 tahunan, banyak truk berat dan besar lewat. Anda perhatikan bagaimana alasan-alasan tersebut berlandas?

Belum ada yang secara gentlemen mengatakan ada kemungkinan ini faktor kelalaian manusia atau pihak yang berwenang mengawasi kebaikan sarana umum yang sangat vital ini. Ya, lagi-lagi kalau bicara masalah ini selalu mengatakan dalih perlunya diadakan penelitian lebih lanjut mengapa terjadi amblas begini. Ya, lagi, supaya tidak disalahkan juga mengeluarkan statemen yang tidak berdasarkan alasan yang ilmiah.

Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang salah. Namun jika manusia mau memahami ini semua, kenapa yang ‘disalahkan’ selalu faktor alam. Memang sesering apakah alam selalu membuat hidup manusia jadi susah? Seakan-akan alam ‘tiba-tiba’ saja membuat jalan atau tanah di bawahnya menjadi amblas. Lho, memangnya ‘amblasnya’ ini ‘tiba-tiba’ begitu? Ting! Bukankah semuanya (kalau kita mau berpikir) selalu ada PROSES? Semua yang terjadi di alam tidak ada yang kebetulan. Semuanya ada proses. Abrasi atau pendangkalan atau penurunan tanah atau apapun namanya, tentunya merupakan rangkaian sebuah proses yang tidak muncul tiba-tiba. Sebegitu mudahnyakan kita menjadikan alam sebagai alasan utama? Padahal jelas sebelum manusia ada Allah telah menyediakan alam bagi manusia. Bukankah manusia yang (kebanyakan) gemar melakukan kerusakan yang nyata di muka bumi?

Sungguh hanya manusia yang berpikirlah yang memang Allah kehendaki memimpin dunia ini dengan amanah. Sulit kalau kita memegang omongan ahli ini atau ahli itu. Pasalnya setelah kejadian begini barulah ahli tata kota muncul. Memangnya selama ini apa yang sudah mereka lakukan. Kalu memang ‘merasa’ sudah, mana publikasinya? Karena setiap ada kejadian (tanda dari Allah) baru semua ‘merasa’ alam yang jadi masalah. Apa sekarang memang kebanyakan manusia ‘sudah merasa benar’?

Alam ini menunjukkan tandanya. Agar manusia berpikir. Agar manusia merenung sebenarnya apa yang telah mereka lalaikan selama ini. Namun berapa banyak manusia yang berpikir demikian? Toh kebanyakan pula manusia cenderung memikirkan dirinya sendiri. Berpikir sesaat, sejengkal, sementara, hampa. Ya, itulah kenikmatan dunia.

Tanda-tanda terlalu banyak telah Allah tunjukkan agar manusia ingat. Namun entah butuh berapa lama bagi kami untuk memahami ini semua? Mudah-mudahan Engkau karuniakan keturunan yang amanah dan memuliakan NamaMu dari kami agar mereka menjadi generasi yang jauh lebih baik dari kami ini. Wallahu’alam.

Iklan

Cara Lama yang Membantu Bumi

Barusan, saya baru membeli semangkuk bakso dan sebungkus juice jambu biji. Mangkuk yang saya bawa sebenarnya bukan mangkuk beling, namun semacam baskom kaleng model jadul, kalau boleh dibilang demikian. Ada tutupnya pula.

Sambil menunggu jus buah selesai diblender, semangkuk bakso tersebut pun selesai disajikan. Lalu saya pasang tutupnya. Setelah jus selesai disajikan dan saya sudah membayar, saya bawa semangkuk bakso itu. Mangkuk tersebut ada pegangannya di pinggir kanan dan kirinya. Karena dari kaleng, praktis panas. Olalaaa… akhirnya saya turunkan lengan panjang kaos/pakaian yang saya pakai. Alhasil, berhasil juga pesanan saya malam ini saya bawa pulang. Memang sengaja dibawa pulang karena ceritanya untuk makan malam dengan nasi. Sementara bakso yang saya pesan sengaja tidak memakai mi atau bihun. Saya hanya memesan toge dan sawi. Tanpa mecin pula.

Pulangnya saya tersenyum-senyum dan terbersit ingin langsung menulis di blog ini. Kenapa ya saya repot-repot begini? Sebenarnya simple saja. Saya mencoba menerapkan gaya hidup dengan mengurangi penggunaan plastik. Selain untuk mengurangi penambahan sampah anorganik. Dan lagi menggunakan plastik untuk bahan makanan yang panas itu juga memicu kanker (menurut informasi yang pernah saya dapatkan). Akhirnya ya sudah. Setiap mau menikmati bakso atau apapun yang butuh dibungkus, saya lebih memilih makan di tempat saja. Atau kalau memang jaraknya dekat, pakai saja metode lama yang saya praktikkan tadi. Rasanya lucu juga jadi teringat masa lalu waktu plastik belum membudaya, meskipun memang memudahkan, dalam beberapa hal.

Wallahu’alam.

Kutunaikan Janjiku Padaku!

Kisah kali ini benar-benar momen yang unik sekaligus menjadikan diri beda, newest, dan yakin. Sebuah proses dialog yang luar biasa terasa maknanya bagi seorang diri yang bukan siapa-siapa ini, kecuali sebagai hambaNya yang lemah.

Pagi itu, Ahad, 2 Mei 2010, kemarin tepatnya. Saya pergi ke tempat favorit kalau sedang ingin jalan-jalan, kemana lagi kalau bukan ke Gramedia Matraman. Biasa, sampai di perempatan Mambo, saya menunggu bis 948 jurusan Kampung Melayu. Rute dari Priuk menuju Matraman memang yang satu kali naik hanya bis ini. Kalau naik rute lain, waduh! Bisa total 4 kali pergi aja dari rumah. Ampun deh! Ya, masalahnya tuh bis terkenal lama munculnya. Alhasil, sekitar hampir setengah jam saya menunggu akhirnya dapat juga, dan Alhamdulillah bisa duduk juga.

Nah, pas pulangnya ini. Lepas cari buku, hmm…Alhamdulillah dapat 6 buku sekaligus untuk bahan kuliah- saya shalat zuhur. Sekitar pukul 14.00 saya tunggu bis 948 tersebut lewat lagi.

Masyaallah…ternyata lamaaaa….minta ampun. Kalo boleh nyesel mah nyesel kali ya. Tapi Alhamdulillah hati nih lagi diterapi sama ujian-ujian hati akhir-akhir ini 🙂

Hasilnya? Hampir 45 menit menunggu, hati sudah mulai gelisah. Namun sebelum kegelisahan itu mengubah niat naik 948, saya berkata dalam hati, “Ok, kalau 15 menit lagi ga ada, naik lewat Senen aja, deh!”

Akhirnya menunggulah lagi saya. Lima menit sudah lewat, rupanya nih hati makin gelisah aja. Kaki saja sudah bolak-balik kayak setrikaan. Malah nih tangan malah ingin menyetop mikrolet 01A. Tapi serta merta suara hati saya tiba-tiba bilang, “Hei, kamu kan tadi udah komitmen! Apa salahnya kamu tunggu sampai 10 menit lagi? Setidaknya kamu sudah komitmen sama janjimu sendiri!! Apa salahnya sih kamu tunaikan janji kamu sendiri. Kalo kamu akhirnya tidak bisa komitmen begini, mendingan tadi ga usah pake komitmen 15 menit lagi segala! Buat apa! Dari awal aja naik mikrolet, ga usah pake janji!”

Nah, lho! Akhirnya nyadar juga (sementara). Karena lima menit berikutnya mulai gellisah lagi. MasyaAllah deh. Godaan naik mikrolet makin jadi aja. Hampir juga tuh nyetop mikrolet.

Akhirnya saya sabar lagi menanti…menanti…menanti…sampai saya lihat kembali arloji di pergelangan tangan kiri saya, Ya…sudah tepat pukul 15.00.  Saya berencana naik mikrolet saja. Sudah buang-buang waktu nih kalau begini caranya.

Ketika saya hendak melangkah, saya lihat ke kanan. Eh…ternyata drai jauuhhh…banget terlihat bis kuning oranye. Sampai dilihat berulang kali…lihat lagi…lihat lagi… benar!! Ternyata itu bis 948.

Betapa senangnya tak berbilang! Sederhana sebenarnya. Apa sih artinya nunggu bis? Yang membuat saya bangga adalah bahwa ketika saya berkomitmen dengan pernyataan saya sendiri, ternyata Allah memberikan janjinya. Dan perjuangan itu ternyata tidak pernah sia-sia. Hanya bentuknya dan waktunya yang perlu kita maknai. Sebenarnya malah hampir nih badan jingkrak-jingkrak kecil, saking senangnya. Saya jadi tidak menyesali yang terjadi, kayaknya puasss…banget.

Mungkin itulah kombinasi dari niat, itikad, kesabaran, positive thinking, internal dialogue, kecemasan, godaan, ketangguhan, kesetiaan, janji, komitmen, alarm kesadaran, pasrah, tabah, keyakinan, akhirnya….sebuah hadiah.

Keteguhan dan kesetiaan saya pada nilai yang saya buat sendiri tidak boleh dianggap enteng. Saya tidak pernah mengindahkan apa yang saya katakan sendiri selama saya sadar. Karena apa artinya membuat janji atau komitmen bila kita sendiri tidak bisa mengejarnya. Kita ingin pada apa yang dituju. Tapi kita cenderung malas melalui jalan dan persyaratan serta resikonya. Itulah kita, tidak setia.

Tapi itu semua saya syukuri karena saya bisa mengukur kapasitas diri saya sendiri. Komitmen dan kawan-kawannya yang saya sebutkan di atas meniadakan keegoisan saya pada diri saya sendiri. Pada nilai-nilai kebaikan yang saya perjuangkan. Saya tidak menyerah dan saya bersyukur akan hal itu. I never regret for it.

Pelajaran diri yang indah…saya menguji saya sendiri…menjalani tesnya…melihat hasilnya…Alhamdulillah. Allah Maha Tahu segalanya.

Jika Allah Sudah ‘campur tangan’

Pernahkah Anda merasakan bentuk sebagaimana judul di atas? Apa jadinya jika Allah sudah turun tangan mengatur hidup kita? Bagaimana ini bisa terjadi? Apa untungnya bila hidup kita rela diatur oleh Allah? Pernahkah Anda dihadapkan pada kenyataan untuk memilih dan memutuskan sesuatu di saat yang seharusnya?

Pernahkah anda merasa bahwa hal tersulit dalam hidupnya adalah betapa sulitnya ia mengendalikan dirinya. Ia sulit menempatkan dirinya pada situasi dan orang tertentu. Bagaimana sulitnya ia menatur sikapnya bila bertemu atasannya, atau dipanggil seseorang tanpa tahu mengapa, atau menyikapi hal baru, teman baru, atau (bahkan terhadap lawan jenis, begitulah pikir saya selanjutnya). Bagaimana mungkin pula ia mampu mengatur kata-kata yang keluar? Bagaimana pula bila tidak biasa menanggung resiko atas apa yang kita katakan?

Sebenarnya satu hal yang paling penting bukan sikap, tapi pikiran… Karena bagaimana sikap adalah bagaimana pikiran kita juga.

Apa gunanya kita mengendalikan pikiran kita? Lantas di mana peran Tuhan dalam hal ini? Anda pasti tahu bahwa pikiran kita menentukan siapa diri kita. Itu pasti. Pikiran atau mind itu adalah bentukan profil diri kita yang akan menentukan siapa diri kita.

Lirik Mariah Carey, Hero:

there’s a hero… If you look inside your heart,

you don’t have to be afraid of what you are,

there’s an answer, if you reach into your soul,

and the sorrow that you know, will dissepear.”

Pikiran adalah kendali sikap. Otak memang benda yang rumit namun amazing! Pikiran kita memang menentukan sikap kita. Kelogisan analisis otak kiri dan visualisasi otak kanan yang amazing, akan mengisi pikiran kita tentang banyak hal. Semuanya diimbangi dengan bagaimana pikiran bisa bekerja sama dengan suara hati. Karena Tuhan berkomunikasi melalui gelombang hati kita. Bagaimanapun pertimbangan spiritual kita perlu kita mintakan fatwanya, karena jawabannya ada di hati, kalau kita mau cari.

Mental, pikiran, perasaan. Kombinasi sistem yang rumit namun setiap orang pasti pernah melaluinya. Biasanya pikiran terasah kalau kita sering diskusi, membaca (lisan, tulisan, alam), berargumen, mendengar, dan berani mengungkapkannya. Pada akhirnya pun semakin terasah pikiran kita semakin terasah pula mental berpikir dan bertindak kita, kita pun terbiasa untuk menelaah dan menganalisis setiap langkah kita.

Ketakutan, menghindari masalah, kecemasan, kekhawatiran, kepasifan. Kombinasi sistem yang parah! Intinya pikiran. Sebenarnya sangat disayangkan bila kombinasi ini ada terkumpul dalam satu diri. Ia menjadi seseorang yang menutup diri untuk lebih percaya dengan dirinya. Makin jelaslah bahwa kekurangan dirinya lebih ia lihat dari pada kelebihannya sendiri. Padahal orang lain melihat kebaikan dan kelebihan dirinya. Akhirnya, kepada siapapun ia akan kesulitan melihat dirinya.

Sebenarnya sikap apapun yang kita pilih bila kita telah memutuskan dengan kebijakan diri kita, kita masih punya ‘tangan’ lain yang juga wajibnya kita yakini adanya. Mental kita, pikiran positif kita pada Tuhan, pada akhirnya akan mengantarkan diri kita pada sebuah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita selama kita setia pada nilai-nilai kebaikan. Tuhan akan ‘ikut’ campur tangan bila kita telah berusaha dengan tiada kata menyerah, dengan segenap pikiran, mental, dan hati kita kepada sebuah keyakinan.

Jika Allah sudah campur tangan, berarti kita telah membiarkan kesempurnaan melingkupi diri kita yang lemah.



Mudahnya Menyalahkan Keadaan

Jika hidup diibaratkan sebagai samudera maka sejauh mata memandang, betapa luas dan tak bertepi. Jika kita adalah bahtera itu, maka kitalah sang penjelajah samudera kehidupan itu. Bukan masalah ke  manapun tujuannya, perjalanan itu yang menentukan.

Hidup ini memang tidak selalu menyajikan hal yang sesuai dengan jalan pikiran kita. Tidak selalu menyajikan kesenangan saja. Itu sama saja menentang hukum alam, sunnatullah. Sama pula dengan membohongi diri sendiri. Memangnya siapa diri kita jika kita ingin enaknya saja. Memangnya kita ini sudah ‘merasa’ berhak dan layak menerima ‘kesenangan’ saja. Memangnya pula, kita ini sudah ‘merasa’ selalu memberikan yang baik, kesenangan, happiness, pada sekitar kita, hingga kita ‘merasa’ tidak pernah membuat sekitar kita sedih atau terganggu atau tidak nyaman dengan diri kita. Jika kita pun ‘merasa’ ‘layak’ untuk hanya menerima apapun sesuai dengan pikiran dan harapan kita, maka kita belum mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya, yang hakikatnya.

Kehidupan (dunia) itu adalah paket lengkap bekal kita kelak. Allah memberikan paket kehidupan itu lengkap dengan diri kita, karena diri kita ini adalah paket yang sebenarnya. Paket yang hakikatnya juga telah lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya. Jadi, kalau kita ingin senang saja di dunia ini, maka kita menentang diri kita sendiri.

Samudera dan bahtera. Apakah samudera yang mengikuti gerak bahtera? Ataukah bahtera yang menyesuaikan irama gelombang samudera? Hukum alam itu tidak akan pernah terbalik. Mau pakai ilmu apa juga tidak akan pernah bisa. Anda bisa menjawabnya bukan?

Sering kali bila penumpang bahtera itu ingin cepat sampai selalu bergumamm, kapan ya sampainya? Mana ya, daratannya? Kok lama, ya? Atau setidaknya berkata, kok jalannya lama amat, ya? Gimana sih kapalnya? Apa Anda melihat persamaan dari semua tanya di atas?

Semuanya tentang hal di luar diri kita, kan? Kok tidak bilang, kok aku tidak sabaran ya? Kenapa sih aku ini, kok sewot aja? Ada apa sih sama diri aku ini? Pada akhirnya semuanya jadi kelihatan cepat selesai hanya dengan menyalahkan keadaan. Bukan kita yang pertama.

Lalu mengapa mudah sekali seseorang menyalahkan keadaan? Mengapa begitu mudahnya bahtera menyalahkan gelombang? Padahal logikanya, kalau tidak ingin terkena gelombang, ya jangan pakai bahtera. Naik pesawat, memang jaminan aman? Pakai angkutan darat? Memang jaminan aman juga? Akhirnya pusing sendiri kan memikirkan caranya.

Pertama dan terakhir, dan yang utama adalah karena dirinya yang tidak mengenal dirinya sendiri. Terutama pikiran dan hatinya. Mulai dari kurang perhatian sampai tidak terurus sama sekali. Biasa memang manusia. Kalau urusan fisik, pasti siap siaga. Tapi kalau urusan soul and mind? Ntar duluu… Jerawat satu nemplok di wajah saja, sudah pusing 17 keliling. Tapi kalau pikiran kotor sedikit saja atau hati berprasangka jelek saja tidak pernah dipikirin kok. Biarin saja istilahnya. Itu sama saja orang yang jerawatan terus dia cuek dengan jerawatnya, dan tetap dibiarkannya jerawat itu dan pede pula. Akhirnya bagaimana rupanya? Ya, nilai saja sendiri. Kasihan sebenarnya kalau orang jauh dari dirinya sendiri. Ia akan jauh dari kehidupan itu sendiri.

Apapun alasan selain yang di atas, itu hanya turunannya saja. Sekarang kalau karena prasangka. Itu kan masalah pikiran kita. Kurang sabar, berarti kan masalah hati. So, memang kita selalu terkendala dengan sikap kita sendiri. Masalahnya sikap kita bagaimana pikiran kita. Sedangkan sikap kita melahirkan tindakan, sedangkan tindakan melahirkan kebiasaan, kalau sudah kebiasaan, biasanya melahirkan tabiat atau lama-lama jadi melekat dengan profil diri kita.

Memang paling gampang menyalahkan keadaan. Karena kita tidak mau mengakui diri kita sendiri. Akhirnya apa? Hidup kita dipenuhi dengan ketidaknyamanan, berat sendiri. Akhirnya kita memupuk arogan diri dan jauh dari yang namanya Rahmat Hidup. Masalahnya banyak dari kita yang ogah cari rahmat hidup, maunya nyari kesenangan semu semata. Hidup kita? Ya, minimal bagus dari luar rapuh di dalam. Mudah pecah. Wallahu’alam.

Mahal ataukah Murah Diri Kita?

Sabtu ini, tanggal 6 Februari tahun 2010, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sepertinya serempak mengadakan Tes Diagnostik Kemampuan guru kelas IV, V, dan VI. Khususnya untuk mata pelajaran UASBN seperti Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Bahasa Indonesia. Penyelenggaraannya dilaksanakan di masing-masing kecamatan atau wilayah yang ditunjuk. Menurut informasi tes ini salah satunya akan menunjukkan peringkat sekolah dasar.

Dilihat dari namanya, diagnostik sama dengan istilah yang sering dipakai dokter bila mengatakan diagnosa. Artinya ada unsur memeriksa dari hasil tes. Dengan melihat hasilnya akan diketahui sampai sejauh mana tiga mata pelajaran itu dikuasai para guru kelas. Seberapa jauh tingkat penguasaan guru terhadap mata pelajaran tersebut.

Menjadi salah satu perwakilan dari sekolah tempat saya bertugas menjadi tantangan baru bagi saya. Tantangan sekaligus penasaran dengan suasana dan antusiasme guru yang mengikutinya. Sekaligus melihat atmosfir tes bila yang menjadi pesertanya adalah yang biasanya mengetes siswanya sendiri. Bagaimana rupanya, ya?

Tak disangka. Sabtu ini adalah hari ke-2 tes diagnostik dengan mata pelajaran yang diujikan adalah IPA dan Bahasa Indonesia. Pelajaran pertama adalah IPA. Setelah berjalan selama kurang lebih 5 menit, terlihatlah suasana yang sesungguhnya. Bagaimana tidak heran (terlebih bagi saya). Banyak yang malah asyik bertanya kanan kiri, depan belakang. Bahkan segala buku primbon pun dengan nyamannya dibuka di bawah meja (laci meja). Pada akhirnya suasana jadi entah bagaimana dimaklumi saja oleh para pengawas yang dua orang banyaknya per kelas. Bahkan, tutur rekan sejawat saya, pengawasnya pun menyatakan harap saling mengerti saja selama tidak mengganggu pihak masing-masing. Maksudnya?

Namun hebatnya adalah Bahasa Indonesia. Saking banyaknya bacaan, mana bisa mereka melihat buku primbon? Bahasa itu terlalu luas untuk dicari di buku primbon apapun. Paling akhirnya mereka jadi bertanya sana-sini. Aneh! Serendah itukah mereka memberi harga pada diri mereka sendiri?

Benar-benar tak menyangka. Bahkan mungkin bukan kali ini saja. Hanya kami saja yang kali ini melihatnya. Kami yang baru tahu dunia sebenarnya. Menyedihkan bila ingin memberi nama baik sekolah hanya dengan cara sedangkal ini. Benar-benar merendahkan profesi kami, guru, pendidik. Lantas masih pantaskan dibilang bersih? Oh, my, God!

Harga Diri

Pada salah satu bahasan materi kelas 3 SD semester II, disebutkan ada materi tentang Harga Diri. Tepat pada minggu-minggu ini kami membahasnya di kelas kami, bersama siswa tercinta kami. Saya masih ingat pertanyaan yang saya ajukan kepada mereka sebelum saya membahas masalah harga diri ini. Agar maksud saya langsung terbayang oleh mereka. Pertanyaan saya adalah, “Kalau Ibu harus beli kamu, berapa sih harga diri kamu? Berapa juta? Berapa milyar? Apa hanya sepuluh ribu rupiah?”

Wajah mereka langsung memahami maksud saya dengan spontan menjawab, “Enak aja kita cuma dibayar sepuluh ribu!!”

Jadi, mengertilah saya bahwa mereka memahami maksud pertanyaan saya. Mereka mengerti bahwa harga mereka mahal. Meskipun saya tahu bahwa mereka melihat dari sisi fisik atau jasad mereka sendiri. Mana mau mereka dibayar serendah itu? Artinya mereka ingin bahwa mereka adalah diri yang mahal.

Nah, bagaimanakah harga diri guru atau pendidik bila caranya semurah ini? Jelas-jelas saya paling sewot kalau melihat mereka mencontek. Jangankan mencontek, mendengar mereka mengatakan menyerah saja sudah saya ajak bicara empat mata.

Apa masih pantas materi Harga Diri ini menjadi materi pada pelajaran moral semacam PKn? Masih pantas, ya?

Saya selalu menanyakan dan menegaskan pada murid saya tentang mahal murahnya diri kita tergantung cara apa yang kita pilih untuk meninggikan kualitas harga diri kita. Masalahnya adalah masa depan. Pilihan sikap kita hari inilah yang akan menentukan kualitas masa depan kita. Apakah malah kita yang sudah lagi tidak memiliki masa depan? Ataukah punya masa depan tapi terlalu gelap untuk dibuat terang?

Menyedihkan. Hanya itu yang bisa saya sampaikan dengan kondisi profesi kami. Nilai-nilai hidup terlalu rapuh untuk tegak. Terlalu rapuh untuk hadir dalam hati kita. Hidup terlalu berharga bila hanya ditukar untuk peningkatan kompetensi semu. Kita masih belum bisa membedakan yang hakikat dengan yang semu. Kasihan murid dan masa depan mereka bila gurunya masih begini.

Namun berbahagialah orang-orang yang jujur. Mereka sedikit. Tapi itulah wakil nilai-nilai kebaikan yang diberikan Tuhan. Karena itulah Tuhan akan menjaga mereka, karena mereka membaikkan semua dengan nilai-nilai kebaikan. So what gitu, lho!

Jadi, karena pasertanya adalah guru-guru, perkenankanlah saya mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, mahal ataukah murah diri kita?

Memang Sulit Praktiknya, tapi Bisa!

Ternyata susah juga menyelami pikiran sendiri. Tidak mudah memang memahami pikiran sendiri. Dan bukan hal ringan memang untuk mengendalikan pikiran sendiri. Apalagi untuk menenangkan pikiran sendiri. Kebalikannya, jika menyangkut pikiran orang lain, kelihatannya cukup mudah, mungkin lebih mudah mengendalikan atau memberi pesan pada pikiran orang lain ketimbang mengatur pikiran kita sendiri. Meskipun semua tergantung diri kita sendiri.

Sebelumnya ada sebuah catatan sangat baik yang ingin dikutip di sini.

Bunyinya begini:

http://blifa.blogspot.com/2009_12_01_archive.html

Kutipan ini dapat Anda lihat pada alamat di atas. Anda bisa membrowsingnya di alamat tersebut.

Pengertiannya sangat membaikkan. Arti lepasnya begini :

Orang yang berpikir positif

melihat sesuatu yang tak terlihat mata,

dapat merasakan yang tak bisa diraba,

dan dapat meraih yang tidak mungkin

Keluwesan hati kita memang dituntut lepas dari sangkaan yang membelit diri kita sendiri. Sulit kalau cuma bisa bicara ikhlas, namun belum lagi diuji. Apalagi jika kita berani mengatakan pada orang lain. Padahal sebenarnya bahagianya langsung diuji, lho. Biar tidak ada hutang omongan lagi. Nah, inilah yang sulit praktiknya. Menetralkan hati dan pikiran ini yang rumit dan butuh fokus tingkat tinggi. Manusia memang makhluk yang rumit. Terlalu rumit untuk mengenali diri sendiri. Namun inilah ujian bagi manusia yang bisa bertahan karena Allah juga memberi modal agar manusia bisa bertahan alias survive. Manusia punya segala cara tinggal menggunakannya dengan optimal. Kita punya akal dan hati yang seharusnya memimpin kita. Bukan pikiran jelek kita. Sungguh terlalu juga diri kita kalau malah membiarkan pikiran negatif menghantui diri kita. Kita juga yang salah, kita juga yang rugi.

Memiliki pemikiran positif menghendaki kita berempati pada keadaan atau seseorang. Bagaimana baiknya kita memposisikan diri kita sebaik kita ingin dimengerti oleh orang lain. Ibaratnya kita menukar keadaan kita dengan keadaan pihak lain. Sejauh itulah kita ingin dimengerti oleh orang lain.

Memiliki pikiran positif berarti juga berusaha keras agar tidak mementingkan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, sedikit egois, sedikit keakuan. Berani mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki kita tidak mengeluarkan prasangka jelek yang kalau kita ikuti malah akan menguras habis tenaga kita. Sedangkan mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki ion-ion positif tetap kita keluarkan dengan afirmasi diri dan bahasa verbal yang jelas dari lisan kita.

Lantas bagaimanakah agar pikiran positif itu dapat kita undang hadir dalam pikiran kita? Sedikit ikhtiar ini mungkin bisa kita coba.

  1. Kenalilah. Kenali benar situasi yang dihadapi pihak lain. Cari sebaik dan seluas mungkin informasi yang kita butuhkan.
  2. Mengerti dan pahamilah. Kalau sudah mengenal, maka langkah berikutnya adalah menyelami keadaannya dengan berempati sebagaimana bila kita yang menghadapi keadaan pihak lain tersebut. Bisa jadi keadaannya justru lebih berat lagi dibandingkan diri kita sendiri.
  3. Tukar posisi. Sederhananya, apakah kita suka bila kita tahu bahwa orang lain memiliki prasangka buruk pada kita padahal kita tidak sebagaimana yang disangkakan? Jadi, tentu kita pun akan merasakan ketidaknyamanan sendiri. Bahkan berprasangka buruk pada diri kita saja sudah tak mungkin terbayangkan, bagaimana bila orang lain itu juga diri kita? Sulit memang, karena tingkat empati itu sulit, mungkin kita baru pada tahap simpati saja.
  4. Bersabarlah. Bila urusannya bersabar, maka kita sebaiknya mulai bersahabat dengan waktu.
  5. Berdoalah. Menahan pikiran negatif perlu benteng. Membangun benteng membutuhkan kekuatan. Kekuatan itu perlu ditambah. Tambahan kekuatan itu harus kita cari dengan doa. Selain itu, kemukakan bentuk pikiran kita dalam berbait doa. Mudah-mudahan itu akan jauh lebih produktif ketimbang menelan kekesalan sendiri.
  6. Percayalah. Meletakkan kepercayaan tergantung pada sebesar apa harapan kita. Menyelipkan dan memberikan rasa ragu pada hati kita akan meruntuhkan besarnya kepercayaan kita. Karena semua yang kita harapkan adalah bagaimana kendali pikiran kita.

Semoga bermanfaat adanya. Semuanya adalah untuk kita mulai. Perkara hasil itu pasti terjadi. Semua tergantung pikiran kita dan kepercayaan kita pada harapan kita. Jadi, peliharalah harapan itu. Yakinlah pada apa yang baik. Bila yang terbaik itu adalah berbaik sangka, maka baiklah dengannya, setialah dengannya, maka Anda akan melihat bahwa semuanya akan berjalan sesuai atau paling tidak mendekati harapan Anda. Ingatlah bahwa doa adalah segalanya. Doa menandakan kelemahan kita. Kelemahan yang menandakan bahwa kita berharap dikuatkan. Selama kita yakin akan yang terbaik, maka hasil pun akan mengikuti. Ini hanya masalah waktu. Kalau sabar, pasti dapat.

InsyaAllah.