Mahal ataukah Murah Diri Kita?

Sabtu ini, tanggal 6 Februari tahun 2010, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sepertinya serempak mengadakan Tes Diagnostik Kemampuan guru kelas IV, V, dan VI. Khususnya untuk mata pelajaran UASBN seperti Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Bahasa Indonesia. Penyelenggaraannya dilaksanakan di masing-masing kecamatan atau wilayah yang ditunjuk. Menurut informasi tes ini salah satunya akan menunjukkan peringkat sekolah dasar.

Dilihat dari namanya, diagnostik sama dengan istilah yang sering dipakai dokter bila mengatakan diagnosa. Artinya ada unsur memeriksa dari hasil tes. Dengan melihat hasilnya akan diketahui sampai sejauh mana tiga mata pelajaran itu dikuasai para guru kelas. Seberapa jauh tingkat penguasaan guru terhadap mata pelajaran tersebut.

Menjadi salah satu perwakilan dari sekolah tempat saya bertugas menjadi tantangan baru bagi saya. Tantangan sekaligus penasaran dengan suasana dan antusiasme guru yang mengikutinya. Sekaligus melihat atmosfir tes bila yang menjadi pesertanya adalah yang biasanya mengetes siswanya sendiri. Bagaimana rupanya, ya?

Tak disangka. Sabtu ini adalah hari ke-2 tes diagnostik dengan mata pelajaran yang diujikan adalah IPA dan Bahasa Indonesia. Pelajaran pertama adalah IPA. Setelah berjalan selama kurang lebih 5 menit, terlihatlah suasana yang sesungguhnya. Bagaimana tidak heran (terlebih bagi saya). Banyak yang malah asyik bertanya kanan kiri, depan belakang. Bahkan segala buku primbon pun dengan nyamannya dibuka di bawah meja (laci meja). Pada akhirnya suasana jadi entah bagaimana dimaklumi saja oleh para pengawas yang dua orang banyaknya per kelas. Bahkan, tutur rekan sejawat saya, pengawasnya pun menyatakan harap saling mengerti saja selama tidak mengganggu pihak masing-masing. Maksudnya?

Namun hebatnya adalah Bahasa Indonesia. Saking banyaknya bacaan, mana bisa mereka melihat buku primbon? Bahasa itu terlalu luas untuk dicari di buku primbon apapun. Paling akhirnya mereka jadi bertanya sana-sini. Aneh! Serendah itukah mereka memberi harga pada diri mereka sendiri?

Benar-benar tak menyangka. Bahkan mungkin bukan kali ini saja. Hanya kami saja yang kali ini melihatnya. Kami yang baru tahu dunia sebenarnya. Menyedihkan bila ingin memberi nama baik sekolah hanya dengan cara sedangkal ini. Benar-benar merendahkan profesi kami, guru, pendidik. Lantas masih pantaskan dibilang bersih? Oh, my, God!

Harga Diri

Pada salah satu bahasan materi kelas 3 SD semester II, disebutkan ada materi tentang Harga Diri. Tepat pada minggu-minggu ini kami membahasnya di kelas kami, bersama siswa tercinta kami. Saya masih ingat pertanyaan yang saya ajukan kepada mereka sebelum saya membahas masalah harga diri ini. Agar maksud saya langsung terbayang oleh mereka. Pertanyaan saya adalah, “Kalau Ibu harus beli kamu, berapa sih harga diri kamu? Berapa juta? Berapa milyar? Apa hanya sepuluh ribu rupiah?”

Wajah mereka langsung memahami maksud saya dengan spontan menjawab, “Enak aja kita cuma dibayar sepuluh ribu!!”

Jadi, mengertilah saya bahwa mereka memahami maksud pertanyaan saya. Mereka mengerti bahwa harga mereka mahal. Meskipun saya tahu bahwa mereka melihat dari sisi fisik atau jasad mereka sendiri. Mana mau mereka dibayar serendah itu? Artinya mereka ingin bahwa mereka adalah diri yang mahal.

Nah, bagaimanakah harga diri guru atau pendidik bila caranya semurah ini? Jelas-jelas saya paling sewot kalau melihat mereka mencontek. Jangankan mencontek, mendengar mereka mengatakan menyerah saja sudah saya ajak bicara empat mata.

Apa masih pantas materi Harga Diri ini menjadi materi pada pelajaran moral semacam PKn? Masih pantas, ya?

Saya selalu menanyakan dan menegaskan pada murid saya tentang mahal murahnya diri kita tergantung cara apa yang kita pilih untuk meninggikan kualitas harga diri kita. Masalahnya adalah masa depan. Pilihan sikap kita hari inilah yang akan menentukan kualitas masa depan kita. Apakah malah kita yang sudah lagi tidak memiliki masa depan? Ataukah punya masa depan tapi terlalu gelap untuk dibuat terang?

Menyedihkan. Hanya itu yang bisa saya sampaikan dengan kondisi profesi kami. Nilai-nilai hidup terlalu rapuh untuk tegak. Terlalu rapuh untuk hadir dalam hati kita. Hidup terlalu berharga bila hanya ditukar untuk peningkatan kompetensi semu. Kita masih belum bisa membedakan yang hakikat dengan yang semu. Kasihan murid dan masa depan mereka bila gurunya masih begini.

Namun berbahagialah orang-orang yang jujur. Mereka sedikit. Tapi itulah wakil nilai-nilai kebaikan yang diberikan Tuhan. Karena itulah Tuhan akan menjaga mereka, karena mereka membaikkan semua dengan nilai-nilai kebaikan. So what gitu, lho!

Jadi, karena pasertanya adalah guru-guru, perkenankanlah saya mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, mahal ataukah murah diri kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: