‘Wajah’ Guru Masa Kini

Guru Berprestasi (?)

Guru Berprestasi (?)

Akhir April lalu, saya ditunjuk sekolah untuk mewakili SDIT Al-Muhajirin menjadi salah satu peserta pemilihan Guru Berprestasi tingkat gugus (wilayah di bawah kecamatan). Well, frankly, I wasn’t too anxious for this programme. Bukannya skeptis. Namun karena diminta, allright. Saya hanya diminta mempersiapkan seperangkat hasil kerja saya selama dua tahun terakhir. Menurut informasi yang saya terima, ada penyeleksian administrasi, wawancara bahasa Inggris, interview wawasan (seputar guru dan pendidikan), dan seleksi surat-surat keputusan atau sertifikat penghargaan. Alhamdulillah saya masih punya modal untuk semuanya. Kecuali satu, pengalaman yang belum 10 tahun!

Saya ingat waktu itu hari Kamis, 30 April 2009, saya bergegas menuju salah satu sekolah yang ditunjuk menjadi tuan rumah. Letaknya tak jauh dari sekolah tercinta saya. Tak lama, sampailah saya. Ternyata, saya peserta ke-2 yang datangnya ‘kepagian’. Singkat cerita, saya harus menunggu nyaris 1 jam sebelum acaranya dimulai. Saya ingin mengutarakan 2 hal; wajah guru saat ini dan acara Guru Berprestasi. Both, is related each other.

Silent, please...!!

Silent, please...!!

Wajah tempo doeloe. Kesan yang tampak dari luar tentang image guru dulu dengan sekarang, beda. Dulu, guru itu bisa diwakilkan dalam satu kata; sederhana. Misalnya dari sisi penampilan dan penyikapannya pada gejolak sosial guru pada umumnya (berani demo, misalnya). Saya jadi ingat sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu. Ada pelatihan di Bekasi. Banyak guru yang ikut. Antusias karena ingin mendapatkan (lebih tepatnya mengumpulkan) poin sertifikasi dengan sertifikat pelatihan atau seminar yang diperolehnya. Kenyataan ini sangat kontras dengan idealisme guru yang menurut saya sangat jauh dari perspektif pribadi saya. Kalau boleh digeneralisir, 90% peserta sudah bubar sebelum seminarnya selesai. Lho? Sertifikatnya? Biasa…! Tinggal titip saja sama teman seperjuangan. Nah, gampang kan? Kebanyakan guru saat ini mulai datang ke acara seminar-seminar dengan cukup high class. Pakaiannya yang blazer, tasnya yang bermerk, sepatu mengkilat, dan tak ketinggalan, HP jenis terbaru. Bahkan Blackberry segala. Ya, entah dari suaminya atau bagaimana, intinya toh mereka memakainya. Bahkan laptop sudah mulai familiar di kalangan guru. Di satu sisi untuk laptop, itu sangat baik. Tinggal memakainya dan memanfaatkannya saja dengan skil yang mendukung (yang saya lihat, hanya guru yang masih ‘semester’ akhir yang bawa laptop, sedangkan peserta yang seusia ibunda saya tercinta tidak ada yang pakai, kecuali pembicaranya-dosen tapinya). Ohya, jangan salah. Sekarang pun telah banyak yang mengganti trennya dengan mengendarai motor matic. Hebat ‘kan? Ini baru ‘wajah’ guru zaman sekarang.

Waktu saya sekolah dulu (1990-an) saya melihat guru-guru wanita yang penampilannya simple. Kontras dengan yang saya lihat waktu di tempat saya menghadiri acara seleksi Guru Berprestasi. Ya, boleh dibilang sangat wah! Saya berpikir, ini bagaimana ya? Apa pantas? Memang tidak semua kok. Tapi itu hanya potret yang ada. Meski masih banyak yang saya lihat dalam keseharian saya.

Dari segi ‘omongan’? Nah, ini yang saya baru tahu! (kesannya kok lugu?) Waktu saya masih sekolah rasanya bapak guru dan ibu guru saya berbicara yang baik-baik saja. Maklum, kan saya masih jadi murid. Nah, ternyata pembicaraan guru yang saya lihat begitu ‘lepasnya’. Maksud saya begini. Waktu saya bergabung dengan para senior saya ini di acara yang masih saya ikuti 30 April lalu, mereka tahu kok kalau saya adalah yang paling muda. Mereka semua (8 orang) usianya lebih tua dari ibunda tercinta saya. Ada juga yang sekita 40 tahunan. Mbokya nyontoh gitu, lho. Cara bicara mereka yang menurut saya kurang elegan. Bukan mereka saja sebenarnya. Mungkin di sekitar kita juga begitu. Apalagi isinya. Saya tak perlu sebutkan.

Teacher in Action!

Teacher in Action!

Wajah guru berikutnya adalah ‘wajah’ itu sendiri. Saat ini wajah guru harus full smile. Guru-guru episode lawas menerapkan cara finger point ke anak didiknya. Teacher oriented istilahnya. Guru sebagai satu-satunya sumber. Yang namanya murid itu 3D; Duduk – Dengar – Diam. Itu baru namanya belajar. Mana ada dulu anak-anak yang berani tunjuk tangan dengan bebasnya? Berani mengekspresikan dirinya, apa adanya. Memang segi kepatuhan dan keseganan pada gurunya masih lekat. Beda dengan kebanyakan siswa zaman sekarang. Masalah hukuman fisik? Bukan hal aneh lagi. Saya saja pernah kena ‘pijatan maut’ dari seorang guru bahasa Indonesia SMP saya. Bahu kanan saya yang jadi sasaran. Gara-garanya? Saya tidak menyelesaikan PR LKS Bahasa Indonesia. Kena, deh!

Sekarang? Mau main fisik? Bisa dilaporkan langsung ke Komisi Perlindungan Anak. Atau terkena delik kekerasan terhadap anak didik. Nah, jadi berabe deh. Kuncinya hanya satu. Baik dulu maupun sekarang masalah yang terjadi menurut saya, dalam hubungan guru dengan siswa adalah KOMUNIKASI yang sehat dari heart to heart. Mana ada dulu guru yang merangkul siswanya, lalu berbicara dengan tenang dan terjadi komunikasi dialogis? Sekarang saja ini masih kaku. Karena memang belum terbiasa. Sampai di sini saya sepakat.

Jangan ini! Jangan itu! Awas, ya!

Jangan ini! Jangan itu! Awas, ya!

DON’T! DON’t! DOn’t! Don’t! don’t!

Hari gini masih bilang jangan? Sebaiknya gunakan kata-kata yang positif diterima otak kita. Apalagi ini otak anak-anak. Telunjuk pakai ditunjuk-tunjuk? Apalagi! Dulu pendidikan yang saya pernah alami memang cenderung keras, bukan tegas lagi. Apalagi guru les bahasa Inggris saya. Bukan keras-keras lagi. Sampai buku jurnal dilempar segala. Ada hikmahnya juga sih. Mental saya jadi belajar menguat. Sekarang guru belajar juga tentang bagaimana komunikasi ke anak, menyikapi dengan tanpa amarah, ohYA! Yang juga harus belajar dipelajari seorang guru masa kini adalah TRYING TO BE A GOOD LISTENER and GREAT READER. Pendengar yang baik dan pembaca yang baik. Selain berbekal kesabaran high level, menjadi pendengar dan pembaca yang baik juga membutuhkan latihan. Tidak bisa hanya sekedar retorika. Semuanya baru mantap kalau dihadapkan dengan kenyataan. Learning by doing.

Here I am. Teacher isn't my job, 'coz I am a teacher already :)

Here I am. Teacher isn't my job, 'coz I am a teacher already 🙂

Pemilihan Guru Berprestasi tahun 2009 ini belum menjadi episode yang harus saya jalani. Karena saya belum lolos seleksi. Menurut informasi, saya tidak lolos karena semua hasil administrasi kelas saya -katanya- banyak yang belum lengkap dan tidak diberi tanda tangan kepala sekolah sebagai tanda bahwa karya saya telah diverifikasi oleh sekolah. But, it doesn’t matter at all. Frankly, whole participants not even better in administration and communication skill. I did heard what they were talking about, and how they did it. It didn’t reflect themselves as a teacher should be indeed. I don’t mean to compare myself and state that I’m the best above all. NO! It is so far-far away from my mind. I even a little bit questioning or inquiring this selection. I mean I saw their character. In short time I had, I  figure them out. In their conversation, they underestimate this selection, for instance. They told that it was just a ceremonial merely and nothing they could get. They only need the letter of an acknowledgement of their participation (worthed for Public Employee Carrier). I knew why they thought like that. Only one reasonable reason; coz they know that they don’t feel decent to be the participants. So, most of them trying to distract the real matter. Funny! This selection itself  has many things to reimprovement. Mainly, in basic. Because, none of  the participants (excluding me) has a match teacher profile.

Saya tidak mendeskriditkan apapun. Hanya berharap bahwa pemilihan seperti ini akan lebih diikuti oleh guru yang benar-benar pilihan. Kesannya jadi begini, ‘habis tidak ada lagi yang cocok jadi calon peserta, makanya kita deh yang kena’. Haruskah seperti ini? Apakah ini kenyataan yang sebenarnya bahwa profil senior saya sudah tidak ada lagi yang patut menjadi teladan? Wallahu’alam. Yang saya pahami, guru yang berprestasi yang sebenarnya adalah mereka yang telah diberikan HAK MENGAJAR oleh anak-anak didiknya. Artinya siswa menerima kita sebagai seorang GURU dalam dirinya. Bukan melihat guru sebagai pekerjaan belaka. Tapi lebih dalam hakikatnya dari itu semua. Kalau saya ditanya apa pekerjaanmu? Saya bilang kalau saya jobless (tidak punya kerjaan alias nganggur). Kok gitu? Karena saya ini memang sudah menjadi guru. Jadi wajah guru masa kini harus kita buat menjadi sebuah sejarah wajah guru yang berkesan di masa depan.

Sebagai closing statement kali ini, izinkan saya mengutip sebuah komentar yang dikemukakan oleh Dr. Komarudin Hidayat di sebuah back cover sebuah buku yang bertajuk Teaching with Love (penulisnya adalah Nanang Fatchurochman, 2008) . Pesannya begini :

Guru masuk kelas tidak cukup hanya berbekal keilmuan sesuai tuntutan kurikulum. Mereka harus masuk kelas dengan hati, dengan cinta kasih. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta

So sweeee…t!

Let Them Feel Their Life!

Let Them Feel Their Life!

To All Teacher in The World!

Iklan

4 responses to this post.

  1. Posted by narto on 10 Juni 2009 at 13:16

    “Mana ada dulu guru yang merangkul siswanya, lalu berbicara dengan tenang dan terjadi komunikasi dialogis? Sekarang saja ini masih kaku. Karena memang belum terbiasa. Sampai di sini saya sepakat.”
    Apa Iya, buktinya di era tahun 80an sudah ada guru BP, dan ini saya alami sendiri. apa guru BP BUKAN GURU!!!
    Kalau penilaian diatas dilakukan secara umum, atau hanya didasarkan pd pengalaman pribadi,…… bisa jadi. iya
    Sejatinya Guru itu, digugu dan ditiru…………………. dan mampu ngemong, apalagi kalau yang diberikan materi pelajaran anak kelas 1 dan kelas 2 SD. Saya pernah duduk satu angkutan umum dengan 3 orang Guru. Yang asyik ngobrol dan yang dibicarakan, sekitaran dunia mengajar, dan salah seorang guru ngomong seperti ini “susahnya mengajar anak-anak kelas 1 SD zaman sekarang, sama seperti ngajar monyet”. Hati saya berdetak, kok ngomongnya seperti ini. Tetapi saya yakin ini dilontarkan karena emosi, pergi ke tempat mengajar suasana hati lagi tidak nyaman kali. Thank’s

    Balas

  2. nice statement….

    Balas

  3. Posted by budi on 25 Februari 2010 at 13:16

    kalo pendapat saya, guru tidak lagi menjadi pentransfer ilmu karena anak mendapat lebih banyak informasi dari berbagai pihak, sehingga guru hanya bekerja dengan mengabsen dan bertanya tahukah kalian dengan masalah ini? dan biasanya mereka mengatakan tahu!!! karena mereka sudah lihat di internet dan koran juga televisi………..guru ehm. Dan membangun kepedulian anak pada pelajaran? ah cape, mereka lebih penduli untuk cepat pulang, dan memperlihatkan tampang non kooperative nya ketika belajar. (oh iya saya juga guru lho…guru bahasa asing)

    Balas

  4. Posted by eliza masnunah on 25 Februari 2010 at 13:16

    I’m with you, a professional teacher should have the many knowledge to support his profesionalism.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: