Jalan Amblas, Salahkah Alam?

Jakarta, 17 September 2010

Jalan R.E. Martadinata amblas. Jatuh sedalam sekitar 7 meter. Terjadi pukul 02.00 dini hari (beberapa hari lalu). Alhamdulillah tidak memakan korban jiwa.

Kebanyakan komentar yang keluar dari para ahli, pengamat, komentator, menteri, semuanya selalu mengatakan alasan abrasi, faktor alam, jalan yang sudah tua, selama 30 tahunan, banyak truk berat dan besar lewat. Anda perhatikan bagaimana alasan-alasan tersebut berlandas?

Belum ada yang secara gentlemen mengatakan ada kemungkinan ini faktor kelalaian manusia atau pihak yang berwenang mengawasi kebaikan sarana umum yang sangat vital ini. Ya, lagi-lagi kalau bicara masalah ini selalu mengatakan dalih perlunya diadakan penelitian lebih lanjut mengapa terjadi amblas begini. Ya, lagi, supaya tidak disalahkan juga mengeluarkan statemen yang tidak berdasarkan alasan yang ilmiah.

Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang salah. Namun jika manusia mau memahami ini semua, kenapa yang ‘disalahkan’ selalu faktor alam. Memang sesering apakah alam selalu membuat hidup manusia jadi susah? Seakan-akan alam ‘tiba-tiba’ saja membuat jalan atau tanah di bawahnya menjadi amblas. Lho, memangnya ‘amblasnya’ ini ‘tiba-tiba’ begitu? Ting! Bukankah semuanya (kalau kita mau berpikir) selalu ada PROSES? Semua yang terjadi di alam tidak ada yang kebetulan. Semuanya ada proses. Abrasi atau pendangkalan atau penurunan tanah atau apapun namanya, tentunya merupakan rangkaian sebuah proses yang tidak muncul tiba-tiba. Sebegitu mudahnyakan kita menjadikan alam sebagai alasan utama? Padahal jelas sebelum manusia ada Allah telah menyediakan alam bagi manusia. Bukankah manusia yang (kebanyakan) gemar melakukan kerusakan yang nyata di muka bumi?

Sungguh hanya manusia yang berpikirlah yang memang Allah kehendaki memimpin dunia ini dengan amanah. Sulit kalau kita memegang omongan ahli ini atau ahli itu. Pasalnya setelah kejadian begini barulah ahli tata kota muncul. Memangnya selama ini apa yang sudah mereka lakukan. Kalu memang ‘merasa’ sudah, mana publikasinya? Karena setiap ada kejadian (tanda dari Allah) baru semua ‘merasa’ alam yang jadi masalah. Apa sekarang memang kebanyakan manusia ‘sudah merasa benar’?

Alam ini menunjukkan tandanya. Agar manusia berpikir. Agar manusia merenung sebenarnya apa yang telah mereka lalaikan selama ini. Namun berapa banyak manusia yang berpikir demikian? Toh kebanyakan pula manusia cenderung memikirkan dirinya sendiri. Berpikir sesaat, sejengkal, sementara, hampa. Ya, itulah kenikmatan dunia.

Tanda-tanda terlalu banyak telah Allah tunjukkan agar manusia ingat. Namun entah butuh berapa lama bagi kami untuk memahami ini semua? Mudah-mudahan Engkau karuniakan keturunan yang amanah dan memuliakan NamaMu dari kami agar mereka menjadi generasi yang jauh lebih baik dari kami ini. Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: