Memang Sulit Praktiknya, tapi Bisa!

Ternyata susah juga menyelami pikiran sendiri. Tidak mudah memang memahami pikiran sendiri. Dan bukan hal ringan memang untuk mengendalikan pikiran sendiri. Apalagi untuk menenangkan pikiran sendiri. Kebalikannya, jika menyangkut pikiran orang lain, kelihatannya cukup mudah, mungkin lebih mudah mengendalikan atau memberi pesan pada pikiran orang lain ketimbang mengatur pikiran kita sendiri. Meskipun semua tergantung diri kita sendiri.

Sebelumnya ada sebuah catatan sangat baik yang ingin dikutip di sini.

Bunyinya begini:

http://blifa.blogspot.com/2009_12_01_archive.html

Kutipan ini dapat Anda lihat pada alamat di atas. Anda bisa membrowsingnya di alamat tersebut.

Pengertiannya sangat membaikkan. Arti lepasnya begini :

Orang yang berpikir positif

melihat sesuatu yang tak terlihat mata,

dapat merasakan yang tak bisa diraba,

dan dapat meraih yang tidak mungkin

Keluwesan hati kita memang dituntut lepas dari sangkaan yang membelit diri kita sendiri. Sulit kalau cuma bisa bicara ikhlas, namun belum lagi diuji. Apalagi jika kita berani mengatakan pada orang lain. Padahal sebenarnya bahagianya langsung diuji, lho. Biar tidak ada hutang omongan lagi. Nah, inilah yang sulit praktiknya. Menetralkan hati dan pikiran ini yang rumit dan butuh fokus tingkat tinggi. Manusia memang makhluk yang rumit. Terlalu rumit untuk mengenali diri sendiri. Namun inilah ujian bagi manusia yang bisa bertahan karena Allah juga memberi modal agar manusia bisa bertahan alias survive. Manusia punya segala cara tinggal menggunakannya dengan optimal. Kita punya akal dan hati yang seharusnya memimpin kita. Bukan pikiran jelek kita. Sungguh terlalu juga diri kita kalau malah membiarkan pikiran negatif menghantui diri kita. Kita juga yang salah, kita juga yang rugi.

Memiliki pemikiran positif menghendaki kita berempati pada keadaan atau seseorang. Bagaimana baiknya kita memposisikan diri kita sebaik kita ingin dimengerti oleh orang lain. Ibaratnya kita menukar keadaan kita dengan keadaan pihak lain. Sejauh itulah kita ingin dimengerti oleh orang lain.

Memiliki pikiran positif berarti juga berusaha keras agar tidak mementingkan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, sedikit egois, sedikit keakuan. Berani mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki kita tidak mengeluarkan prasangka jelek yang kalau kita ikuti malah akan menguras habis tenaga kita. Sedangkan mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki ion-ion positif tetap kita keluarkan dengan afirmasi diri dan bahasa verbal yang jelas dari lisan kita.

Lantas bagaimanakah agar pikiran positif itu dapat kita undang hadir dalam pikiran kita? Sedikit ikhtiar ini mungkin bisa kita coba.

  1. Kenalilah. Kenali benar situasi yang dihadapi pihak lain. Cari sebaik dan seluas mungkin informasi yang kita butuhkan.
  2. Mengerti dan pahamilah. Kalau sudah mengenal, maka langkah berikutnya adalah menyelami keadaannya dengan berempati sebagaimana bila kita yang menghadapi keadaan pihak lain tersebut. Bisa jadi keadaannya justru lebih berat lagi dibandingkan diri kita sendiri.
  3. Tukar posisi. Sederhananya, apakah kita suka bila kita tahu bahwa orang lain memiliki prasangka buruk pada kita padahal kita tidak sebagaimana yang disangkakan? Jadi, tentu kita pun akan merasakan ketidaknyamanan sendiri. Bahkan berprasangka buruk pada diri kita saja sudah tak mungkin terbayangkan, bagaimana bila orang lain itu juga diri kita? Sulit memang, karena tingkat empati itu sulit, mungkin kita baru pada tahap simpati saja.
  4. Bersabarlah. Bila urusannya bersabar, maka kita sebaiknya mulai bersahabat dengan waktu.
  5. Berdoalah. Menahan pikiran negatif perlu benteng. Membangun benteng membutuhkan kekuatan. Kekuatan itu perlu ditambah. Tambahan kekuatan itu harus kita cari dengan doa. Selain itu, kemukakan bentuk pikiran kita dalam berbait doa. Mudah-mudahan itu akan jauh lebih produktif ketimbang menelan kekesalan sendiri.
  6. Percayalah. Meletakkan kepercayaan tergantung pada sebesar apa harapan kita. Menyelipkan dan memberikan rasa ragu pada hati kita akan meruntuhkan besarnya kepercayaan kita. Karena semua yang kita harapkan adalah bagaimana kendali pikiran kita.

Semoga bermanfaat adanya. Semuanya adalah untuk kita mulai. Perkara hasil itu pasti terjadi. Semua tergantung pikiran kita dan kepercayaan kita pada harapan kita. Jadi, peliharalah harapan itu. Yakinlah pada apa yang baik. Bila yang terbaik itu adalah berbaik sangka, maka baiklah dengannya, setialah dengannya, maka Anda akan melihat bahwa semuanya akan berjalan sesuai atau paling tidak mendekati harapan Anda. Ingatlah bahwa doa adalah segalanya. Doa menandakan kelemahan kita. Kelemahan yang menandakan bahwa kita berharap dikuatkan. Selama kita yakin akan yang terbaik, maka hasil pun akan mengikuti. Ini hanya masalah waktu. Kalau sabar, pasti dapat.

InsyaAllah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: