Archive for the ‘Opinion’ Category

Jika Allah Sudah ‘campur tangan’

Pernahkah Anda merasakan bentuk sebagaimana judul di atas? Apa jadinya jika Allah sudah turun tangan mengatur hidup kita? Bagaimana ini bisa terjadi? Apa untungnya bila hidup kita rela diatur oleh Allah? Pernahkah Anda dihadapkan pada kenyataan untuk memilih dan memutuskan sesuatu di saat yang seharusnya?

Pernahkah anda merasa bahwa hal tersulit dalam hidupnya adalah betapa sulitnya ia mengendalikan dirinya. Ia sulit menempatkan dirinya pada situasi dan orang tertentu. Bagaimana sulitnya ia menatur sikapnya bila bertemu atasannya, atau dipanggil seseorang tanpa tahu mengapa, atau menyikapi hal baru, teman baru, atau (bahkan terhadap lawan jenis, begitulah pikir saya selanjutnya). Bagaimana mungkin pula ia mampu mengatur kata-kata yang keluar? Bagaimana pula bila tidak biasa menanggung resiko atas apa yang kita katakan?

Sebenarnya satu hal yang paling penting bukan sikap, tapi pikiran… Karena bagaimana sikap adalah bagaimana pikiran kita juga.

Apa gunanya kita mengendalikan pikiran kita? Lantas di mana peran Tuhan dalam hal ini? Anda pasti tahu bahwa pikiran kita menentukan siapa diri kita. Itu pasti. Pikiran atau mind itu adalah bentukan profil diri kita yang akan menentukan siapa diri kita.

Lirik Mariah Carey, Hero:

there’s a hero… If you look inside your heart,

you don’t have to be afraid of what you are,

there’s an answer, if you reach into your soul,

and the sorrow that you know, will dissepear.”

Pikiran adalah kendali sikap. Otak memang benda yang rumit namun amazing! Pikiran kita memang menentukan sikap kita. Kelogisan analisis otak kiri dan visualisasi otak kanan yang amazing, akan mengisi pikiran kita tentang banyak hal. Semuanya diimbangi dengan bagaimana pikiran bisa bekerja sama dengan suara hati. Karena Tuhan berkomunikasi melalui gelombang hati kita. Bagaimanapun pertimbangan spiritual kita perlu kita mintakan fatwanya, karena jawabannya ada di hati, kalau kita mau cari.

Mental, pikiran, perasaan. Kombinasi sistem yang rumit namun setiap orang pasti pernah melaluinya. Biasanya pikiran terasah kalau kita sering diskusi, membaca (lisan, tulisan, alam), berargumen, mendengar, dan berani mengungkapkannya. Pada akhirnya pun semakin terasah pikiran kita semakin terasah pula mental berpikir dan bertindak kita, kita pun terbiasa untuk menelaah dan menganalisis setiap langkah kita.

Ketakutan, menghindari masalah, kecemasan, kekhawatiran, kepasifan. Kombinasi sistem yang parah! Intinya pikiran. Sebenarnya sangat disayangkan bila kombinasi ini ada terkumpul dalam satu diri. Ia menjadi seseorang yang menutup diri untuk lebih percaya dengan dirinya. Makin jelaslah bahwa kekurangan dirinya lebih ia lihat dari pada kelebihannya sendiri. Padahal orang lain melihat kebaikan dan kelebihan dirinya. Akhirnya, kepada siapapun ia akan kesulitan melihat dirinya.

Sebenarnya sikap apapun yang kita pilih bila kita telah memutuskan dengan kebijakan diri kita, kita masih punya ‘tangan’ lain yang juga wajibnya kita yakini adanya. Mental kita, pikiran positif kita pada Tuhan, pada akhirnya akan mengantarkan diri kita pada sebuah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita selama kita setia pada nilai-nilai kebaikan. Tuhan akan ‘ikut’ campur tangan bila kita telah berusaha dengan tiada kata menyerah, dengan segenap pikiran, mental, dan hati kita kepada sebuah keyakinan.

Jika Allah sudah campur tangan, berarti kita telah membiarkan kesempurnaan melingkupi diri kita yang lemah.



Iklan

Mudahnya Menyalahkan Keadaan

Jika hidup diibaratkan sebagai samudera maka sejauh mata memandang, betapa luas dan tak bertepi. Jika kita adalah bahtera itu, maka kitalah sang penjelajah samudera kehidupan itu. Bukan masalah ke  manapun tujuannya, perjalanan itu yang menentukan.

Hidup ini memang tidak selalu menyajikan hal yang sesuai dengan jalan pikiran kita. Tidak selalu menyajikan kesenangan saja. Itu sama saja menentang hukum alam, sunnatullah. Sama pula dengan membohongi diri sendiri. Memangnya siapa diri kita jika kita ingin enaknya saja. Memangnya kita ini sudah ‘merasa’ berhak dan layak menerima ‘kesenangan’ saja. Memangnya pula, kita ini sudah ‘merasa’ selalu memberikan yang baik, kesenangan, happiness, pada sekitar kita, hingga kita ‘merasa’ tidak pernah membuat sekitar kita sedih atau terganggu atau tidak nyaman dengan diri kita. Jika kita pun ‘merasa’ ‘layak’ untuk hanya menerima apapun sesuai dengan pikiran dan harapan kita, maka kita belum mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya, yang hakikatnya.

Kehidupan (dunia) itu adalah paket lengkap bekal kita kelak. Allah memberikan paket kehidupan itu lengkap dengan diri kita, karena diri kita ini adalah paket yang sebenarnya. Paket yang hakikatnya juga telah lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya. Jadi, kalau kita ingin senang saja di dunia ini, maka kita menentang diri kita sendiri.

Samudera dan bahtera. Apakah samudera yang mengikuti gerak bahtera? Ataukah bahtera yang menyesuaikan irama gelombang samudera? Hukum alam itu tidak akan pernah terbalik. Mau pakai ilmu apa juga tidak akan pernah bisa. Anda bisa menjawabnya bukan?

Sering kali bila penumpang bahtera itu ingin cepat sampai selalu bergumamm, kapan ya sampainya? Mana ya, daratannya? Kok lama, ya? Atau setidaknya berkata, kok jalannya lama amat, ya? Gimana sih kapalnya? Apa Anda melihat persamaan dari semua tanya di atas?

Semuanya tentang hal di luar diri kita, kan? Kok tidak bilang, kok aku tidak sabaran ya? Kenapa sih aku ini, kok sewot aja? Ada apa sih sama diri aku ini? Pada akhirnya semuanya jadi kelihatan cepat selesai hanya dengan menyalahkan keadaan. Bukan kita yang pertama.

Lalu mengapa mudah sekali seseorang menyalahkan keadaan? Mengapa begitu mudahnya bahtera menyalahkan gelombang? Padahal logikanya, kalau tidak ingin terkena gelombang, ya jangan pakai bahtera. Naik pesawat, memang jaminan aman? Pakai angkutan darat? Memang jaminan aman juga? Akhirnya pusing sendiri kan memikirkan caranya.

Pertama dan terakhir, dan yang utama adalah karena dirinya yang tidak mengenal dirinya sendiri. Terutama pikiran dan hatinya. Mulai dari kurang perhatian sampai tidak terurus sama sekali. Biasa memang manusia. Kalau urusan fisik, pasti siap siaga. Tapi kalau urusan soul and mind? Ntar duluu… Jerawat satu nemplok di wajah saja, sudah pusing 17 keliling. Tapi kalau pikiran kotor sedikit saja atau hati berprasangka jelek saja tidak pernah dipikirin kok. Biarin saja istilahnya. Itu sama saja orang yang jerawatan terus dia cuek dengan jerawatnya, dan tetap dibiarkannya jerawat itu dan pede pula. Akhirnya bagaimana rupanya? Ya, nilai saja sendiri. Kasihan sebenarnya kalau orang jauh dari dirinya sendiri. Ia akan jauh dari kehidupan itu sendiri.

Apapun alasan selain yang di atas, itu hanya turunannya saja. Sekarang kalau karena prasangka. Itu kan masalah pikiran kita. Kurang sabar, berarti kan masalah hati. So, memang kita selalu terkendala dengan sikap kita sendiri. Masalahnya sikap kita bagaimana pikiran kita. Sedangkan sikap kita melahirkan tindakan, sedangkan tindakan melahirkan kebiasaan, kalau sudah kebiasaan, biasanya melahirkan tabiat atau lama-lama jadi melekat dengan profil diri kita.

Memang paling gampang menyalahkan keadaan. Karena kita tidak mau mengakui diri kita sendiri. Akhirnya apa? Hidup kita dipenuhi dengan ketidaknyamanan, berat sendiri. Akhirnya kita memupuk arogan diri dan jauh dari yang namanya Rahmat Hidup. Masalahnya banyak dari kita yang ogah cari rahmat hidup, maunya nyari kesenangan semu semata. Hidup kita? Ya, minimal bagus dari luar rapuh di dalam. Mudah pecah. Wallahu’alam.

Memang Sulit Praktiknya, tapi Bisa!

Ternyata susah juga menyelami pikiran sendiri. Tidak mudah memang memahami pikiran sendiri. Dan bukan hal ringan memang untuk mengendalikan pikiran sendiri. Apalagi untuk menenangkan pikiran sendiri. Kebalikannya, jika menyangkut pikiran orang lain, kelihatannya cukup mudah, mungkin lebih mudah mengendalikan atau memberi pesan pada pikiran orang lain ketimbang mengatur pikiran kita sendiri. Meskipun semua tergantung diri kita sendiri.

Sebelumnya ada sebuah catatan sangat baik yang ingin dikutip di sini.

Bunyinya begini:

http://blifa.blogspot.com/2009_12_01_archive.html

Kutipan ini dapat Anda lihat pada alamat di atas. Anda bisa membrowsingnya di alamat tersebut.

Pengertiannya sangat membaikkan. Arti lepasnya begini :

Orang yang berpikir positif

melihat sesuatu yang tak terlihat mata,

dapat merasakan yang tak bisa diraba,

dan dapat meraih yang tidak mungkin

Keluwesan hati kita memang dituntut lepas dari sangkaan yang membelit diri kita sendiri. Sulit kalau cuma bisa bicara ikhlas, namun belum lagi diuji. Apalagi jika kita berani mengatakan pada orang lain. Padahal sebenarnya bahagianya langsung diuji, lho. Biar tidak ada hutang omongan lagi. Nah, inilah yang sulit praktiknya. Menetralkan hati dan pikiran ini yang rumit dan butuh fokus tingkat tinggi. Manusia memang makhluk yang rumit. Terlalu rumit untuk mengenali diri sendiri. Namun inilah ujian bagi manusia yang bisa bertahan karena Allah juga memberi modal agar manusia bisa bertahan alias survive. Manusia punya segala cara tinggal menggunakannya dengan optimal. Kita punya akal dan hati yang seharusnya memimpin kita. Bukan pikiran jelek kita. Sungguh terlalu juga diri kita kalau malah membiarkan pikiran negatif menghantui diri kita. Kita juga yang salah, kita juga yang rugi.

Memiliki pemikiran positif menghendaki kita berempati pada keadaan atau seseorang. Bagaimana baiknya kita memposisikan diri kita sebaik kita ingin dimengerti oleh orang lain. Ibaratnya kita menukar keadaan kita dengan keadaan pihak lain. Sejauh itulah kita ingin dimengerti oleh orang lain.

Memiliki pikiran positif berarti juga berusaha keras agar tidak mementingkan diri sendiri, memikirkan diri sendiri, sedikit egois, sedikit keakuan. Berani mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki kita tidak mengeluarkan prasangka jelek yang kalau kita ikuti malah akan menguras habis tenaga kita. Sedangkan mengeluarkan pikiran positif berarti menghendaki ion-ion positif tetap kita keluarkan dengan afirmasi diri dan bahasa verbal yang jelas dari lisan kita.

Lantas bagaimanakah agar pikiran positif itu dapat kita undang hadir dalam pikiran kita? Sedikit ikhtiar ini mungkin bisa kita coba.

  1. Kenalilah. Kenali benar situasi yang dihadapi pihak lain. Cari sebaik dan seluas mungkin informasi yang kita butuhkan.
  2. Mengerti dan pahamilah. Kalau sudah mengenal, maka langkah berikutnya adalah menyelami keadaannya dengan berempati sebagaimana bila kita yang menghadapi keadaan pihak lain tersebut. Bisa jadi keadaannya justru lebih berat lagi dibandingkan diri kita sendiri.
  3. Tukar posisi. Sederhananya, apakah kita suka bila kita tahu bahwa orang lain memiliki prasangka buruk pada kita padahal kita tidak sebagaimana yang disangkakan? Jadi, tentu kita pun akan merasakan ketidaknyamanan sendiri. Bahkan berprasangka buruk pada diri kita saja sudah tak mungkin terbayangkan, bagaimana bila orang lain itu juga diri kita? Sulit memang, karena tingkat empati itu sulit, mungkin kita baru pada tahap simpati saja.
  4. Bersabarlah. Bila urusannya bersabar, maka kita sebaiknya mulai bersahabat dengan waktu.
  5. Berdoalah. Menahan pikiran negatif perlu benteng. Membangun benteng membutuhkan kekuatan. Kekuatan itu perlu ditambah. Tambahan kekuatan itu harus kita cari dengan doa. Selain itu, kemukakan bentuk pikiran kita dalam berbait doa. Mudah-mudahan itu akan jauh lebih produktif ketimbang menelan kekesalan sendiri.
  6. Percayalah. Meletakkan kepercayaan tergantung pada sebesar apa harapan kita. Menyelipkan dan memberikan rasa ragu pada hati kita akan meruntuhkan besarnya kepercayaan kita. Karena semua yang kita harapkan adalah bagaimana kendali pikiran kita.

Semoga bermanfaat adanya. Semuanya adalah untuk kita mulai. Perkara hasil itu pasti terjadi. Semua tergantung pikiran kita dan kepercayaan kita pada harapan kita. Jadi, peliharalah harapan itu. Yakinlah pada apa yang baik. Bila yang terbaik itu adalah berbaik sangka, maka baiklah dengannya, setialah dengannya, maka Anda akan melihat bahwa semuanya akan berjalan sesuai atau paling tidak mendekati harapan Anda. Ingatlah bahwa doa adalah segalanya. Doa menandakan kelemahan kita. Kelemahan yang menandakan bahwa kita berharap dikuatkan. Selama kita yakin akan yang terbaik, maka hasil pun akan mengikuti. Ini hanya masalah waktu. Kalau sabar, pasti dapat.

InsyaAllah.

Membaca: Keseimbangan Alam Pikir dan Sisi Jiwa

“Membaca adalah jendela dunia. Membaca bisa membawa pembacanya menjelajah alam di luar imajinasi kita. Membaca menjadi sesuatu yang menyenangkan karena perasaan membawa kita masuk ke dalamnya. Membaca menjadikan kita sedikit open minded dalam memahami banyak hal. Dan membaca membuat kita sedikit lebih bijaksana memaknai dan menyikapi hidup.”

Berikut ini saya kutipkan lebih dahulu sebuah artikel singkat. Berikut petikannya yang saya copas dari :

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=106646

Berinternet Tingkatkan Fungsi Otak

HASIL penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of California, Los Angeles (UCLA) menemukan bahwa kegiatan berselancar di dunia maya bagi para pengguna internet paruh baya atau lebih tua dapat meningkatkan fungsi otak mereka.

Dr. Gary Small dari Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior di UCLA mengatakan, “Kalangan orang tua dengan pengalaman menggunakan internet yang minim, bisa meningkatkan kemampuan fungsi otak mereka dengan berselancar di dunia maya. Bahkan meski hanya sebentar, kegiatan berinternet mampu mengubah pola aktivitas kinerja otak serta meningkatkan fungsinya. “Small dan timnya menyeleksi sekitar 24 partisipan berusia antara 55 hingga 78 tahun.

Setengah dari sampel partisipan memiliki pengalaman menggunakan internet, sementara sebagian lainnya tidak terlalu berpengalaman dalam berinternet. Setelah diberikan pelatihan internet, peneliti kemudian menganalisis aktivitas otak para partisipan yang minim pengalaman. Dengan alat khusus, terlihat bahwa hanya dalam waktu singkat, pola aktivitas otak mereka sangat mirip dengan mereka yang berada dalam kelompok yang mahir berinternet.

“Hasil penelitian tersebut menunjukkan, berselancar secara online bisa menjadi bentuk latihan sederhana yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pengenalan pada orang-orang paruh baya,” kata peneliti lainnya Teena D. Moody. Menurut Moody, saat melakukan pencarian dan browsing di internet, kemampuan dalam mengingat dan menggali informasi penting dari sebuah gambar atau kata menjadi sangat penting. Oleh karena itulah, otak dipicu untuk bekerja (berpikir) lebih keras. (Xinhua/jam)***

Well, bagaimana? Sepertinya cukup menggembirakan, lho! Alam otak memang luar biasa complicated alias rumit. Alam yang sampai kapan pun manusia sangat minim menguliknya. Namun tak ada ruginya kita sedikit mengupas hikmah benda lunak dalam tempurung kepala kita.

Ternyata ada begitu banyak cara ‘menyehatkan’ otak kita. At least yang paling kita kenal adalah hubungannya dengan dunia membaca dan menulis. Ada juga istilahnya ‘merehat’ kerja otak kita.

Kita juga pasti sering mendengar dua otak, kiri dan kanan kita. Makanya jika yang dipakai selalu otak kiri, biasanya akan mudah kita mengeluh atau lelah atau apalah yang judulnya jenuh.

Sementara bila otak kanan yang bekerja, hmmm… jangankan lelah, kerasa apapun juga dijabanin. Ya, main game sederhananya. Sampai kapan juga lumayan kenyang tuh tanpa makan.

Dalam rutinitas bekerja juga demikian. Misalnya aktivitas harian saya yang kalau orang lihat kerajinan banget ngerjain ini-itu, jalan sana jalan sini. Ya, saya pekerja yang memang sering singgah ke tempat manapun orang membutuhkan jasa mengajar saya. Privat misalnya. Paginya bekerja, sorenya jalan-jalan. Begitu saja saya mengartikannya. Menyalakan api otak kanan saya agar yang saya lakukan lebih menyenangkan diri saya sendiri dan tentunya orang lain. Hasilnya, pulang tiap malam pun Alhamdulillah tidak menjadikan saya datang terlambat, selagi mampu dan memang dalam kapasitas yang saya perhitungkan. Bukankah semua hal harus diperhitungkan?

Nah, saya sendiri pun jadi lebih menghargai saya sendiri, lebih banyak mensyukuri bahwa semakin kita berterima kasih kepada Allah atas apa yang saya jalani selama ini, pasti Allah akan tambahkan lagi. Pokoknya pekerjaan dari pagi sampai sore lama-lama saya bawa enjoy. Ibaratnya saya silaturahim, menjelajah dunia yang berbeda dan penuh warna setiap kali. Malah bisa-bisanya saya yang kangen dengan siswa-siswa menjelang sore saya 🙂 tak jarang juga saya yang dikejar-kejar deringan telepon sekedar menanyakan saya jadi datang apa tidak. Bagaimana saya tidak menikmatinya? Berarti kan orang menanti saya. Kalau menjadi orang yang dinanti kedatangannya kan berarti ada gunanya… 🙂 menghibur diri ceritanya. Tapi, benar, lho!

Membaca itu memang harus distimulan. Mulai dari hal yang paling dekat saja dengan apa yang kita mau. Begitulah saya membahasakannya. Lama-lama pasti tergerak untuk mencari bahan bacaan lain yang mungkin tidak pernah kita baca sebelumnya.

Membaca itu sebenarnya dapat menyeimbangkan kerja dua otak kita. Dan tidak ngerasa cape. Kuncinya satu, ikut meleburkan diri. Ini bisa kita analogikan kalau kita melihat film. Coba kalau yang gampang terharu macam saya, melihat yang menyentuh hati aja udah langsung berlinang air mata tuh. Cuma kalo lagi otak kirinya nyadar, cepat-cepat deh ga jadi tuh air mata jatuh 🙂

Pada akhirnya suasana emosi dan wawasan keberpikiran kita cenderung lebih bijaksana. Percaya atau tidak, lakukan saja.

Nah, bila anda suka menulis atau mulai suka coba-coba menulis, lakukan saja. Mulai saja dari apa saja yang Anda suka untuk menulis. Hasilnya jauh lebih segar lagi buat otak kita. Percaya atau tidak, ini akan mempengaruhi komunikasi sosial kita. Karena dari menulis kita mulai dibiasakan berpikir logis, runut dan ada tujuannya. Masa iya nulis tidak ada tujuannya? Jadi InsyaAllah dengan menuangkan ide, kita jadi terbiasa juga kapan berbicara, kapan diam.

Mind and Soul

Saya bukan orang yang ahli untuk bicara mind and soul. Namun izinkan saya sedikit berbagi rasa tentangnya. Pikiran biasanya menuntun kita untuk ‘back to reality’. Sementara jiwa cenderung dipengaruhi oleh suasana hati (emosional). Bayangkan jika Anda tengah membuat sebuah keputusan. Betapa melelahkan sebenarnya pergulatan antara pikiran dan jiwa atau sisi emosional kita. Okelah karena saya yang berbicara ini perempuan, maka sudut pandangnya pasti dari perempuan. Itu pun berbeda-beda, ada yang dominan logis, ada yang dominan emosional. Terserah bagaimana Anda memandangnya, semoga saja dapat diterima.

Ketika harus memutuskan, peran otak kiri adalah semacam mencari bahan. Menganalisis untung rugi, manfaat atau tidak, efisien atau tidak, pokoknya yang sifatnya bahan perhitungan (kalkulatif). Sementara emosional mempengaruhi imajinasi prediksi dan lainnya yang sifatnya sugesti. Akhirnya di mana letak keputusannya? Cuma satu! HATI YANG ZMP (zero mind process)- istilah yang saya pinjam dari ESQ-165.

Untung rugi jadi tidak masalah, karena dalam jiwa yang ikhlas ujungnya bukan akhir…tapi semacam titik balik. Misalnya ketika belum sesuai dengan harapan, ya, sudah berarti memang bukan jalannya untuk dilalui. Jika ya, tentu tantangannya juga tidak main-main. Masing-masing meminta demand yang setimpal. Sayangnya ya itu tadi, sisi emosional sering kali jadi sangat dominan bila kenyataan tidak (belum) sesuai harapan. Kebanyakan kaum perempuan demikian, namun sebaliknya dengan kaum pria. Memang Allah membuat perumpamaan perimbangan yang luar biasa dengan diciptakannya Adam dan Hawa.

Ketika saya singgung dengan membaca sebenarnya saya mengajak hidup lebih produktif saja. Meskipun ada begitu banyak cara kita menyeimbangkan alam pikiran kita dengan jiwa. Not only reading. Anda bisa mengeksplor lebih luas dan dalam.

Selalulah optimis. Karena optimis itu lahir dari keberusahaan kita mengelola otak kanan dan otak kiri kita. InsyaAllah, memang kita ini tidak sempurna, namun paling tidak kita berusaha ke arahnya.

2012 Is All About

Hehehe…nampaknya semua jerih payah Sabtu, 16 November 2009  lalu di XXI Artha Gading lumayan terbayar juga. Ceritanya benar-benar spontan abiz. Perkara awalnya kita emang ga niat gitu kalo hari ini bakal kesampaian juga nonton di hari ke-2. Sama sohib ngajar, kita jalan dah siang sabtu itu… habis datang di Mamanya Marissa, murid kelas 2… undangan walimatus safar. Nih sohib tiba-tiba aja berbisik mesra…katanya, “Bu, jadi ga’ nih kita…,,,?” Nah lho, batin bilang aku janji apaan ya sama dia? Perasaan kagak pernah bilang janji apapun. Kujawab aja ringan, “apaan sih?” Yaa…dia lupa, katanya. Katanya mau nonton 2012?? Hoho…lupanya nih…lupa, lupa, lupa…!!? apalah hendak di kata?

Awalnya sebelum pemutaran perdananya Jumat lalu, saya memang tengah bergosip ria tentang nih film. Masalahnya saat sohib saya bilang tentanng film ini, saya sama sekali out of the world dah…kagak tahu apa-apa maksudnya. Emang lagi ada acara yang harus saya tangani. Maklum jadi kepala proyeknya jadi agak-agak keliwat gitu kalo ada iklan apalagi tentang 2012 ini.

Sohib saya ini nanya apa saya dah lihat iklan 2012. Dasar saya ga nyambung, jadilah saya bingung, apaan tuh? Ceritalah dia tentang ikaln film yang dia lihat tadi malam. Olala,,,,rupa-rupanya begitu juga yang ditanyakan anak-anak tentang kiamat…walah,,,,nyambung aku sekarang. Yang pertama kali diceritakan sohib saya ini adalah kedahsyatan gambaran filmnya. Baguuuussszzz….zz…sekale katanya. Akhirnya jadilah mungkin saat itu saya spontan ngajak dia nonton sekalian di hari pertama atau keduanya. Pas sabtu itu yang saya bengong mau diajakin ke XXI.

Siangnya langsung kita menghubungi XXI dan yup! Ternyata dah maen. Malahan pas ada yang diputer siang. Berlajulah kami ke XXI. Sampai di sana sekitar pukul 13.50-an. Baru ada lagi ternyata pukul 15.15. Ya sudah. Walah…ternyata dengan 5 loket yang dibuka, antreannya…wuihhh,,,,mantap boo…??! dari loket depan sampai tembok belakang mantap panjangnya. Bahkan selidik punya selidik ternyata banyak yang antre untuk dapetin tiket yang  pukul 8 dan 10 malam. Ampuunn…

Sebetulnya kita udah pasrah aja dapet ga dapet ya gimana nanti. Mau antre kok kayaknya ga yakin bakal dapat yang pukul 3 sore. Akhirnya sohib yang punya inisiatif ini meminta kebaikan seorang gadis berkerudung muda yang sedang antre sekitar 6 orang lagi dekat meja tiket depan. Singkatnya akhirnya dapat juga yang pukul 15.15. Memang bangkunya yang row 2 di depan tengah. Tapi ga masalah! Dah nanggung. Mo milih malam, kita kagak milih dah.

Jadi deh akhirnya kita nonton. Asyik dah ngeliat visual effect yang mantapz abiz.  Hehehe…apalagi melihat yang maen. Ternyata John Cusack. Malah tadinya ga pernah kepikiran siapa yang maen. Pokoknya nonton aja judulnya.

John Cusack plays the role Jackson Curtis, a divorced writer who occasionally works as a limousine driver: will he be able to save his kids from Emmerich’s flood? Hope so! 🙂

Lumayan deh bisa lihat penampilan terkininya John Cusack. Dah jadi bapak-bapak sih tampangnya, tapi lumayan cool banget dan sesuai banget dengan peran yang dia mainkan, penulis buku yang 400-an kopi. Agak cuek namun intutitif juga menurut saya. Jadi semacam oleh-oleh kecil deh soalnya benar-benar ga tau siapa yang maen.  Perannya yang saya suka ini ehmmm,,,tentang seorang ayah yang statusnya pisah dari istrinya. Sementara istrinya dah nikah lagi. Dari semua rentetan kejadian yang ditampilkan, sang ayah ini-Jackson Curtis- biar bagaimanapun mempunyai insting untuk menyelamatkan anak-anak dan -bagaimanapun juga- keluarganya meskipun sudah devorced. At least, itulah yang saya suka dari balik perannya. Toh tidak ada bekas ayah dan bekas mama. Apalagi bekas anak. Kecuali bekas suami atau bekas istri (mantan, maksudnye).

Antara kemanusiaan dan ego para pemimpin juga ditampilkan dalam film ini. Bagaimana sikap memutuskan anatara pemimpin dan rakyat yang digambarkan dalam film ini sempat ditinggalkan begitu saja. Namun tetap eksistensi pemimpin sebagai pengambil keputusan juga sangat baik dilukiskan dalam film ini. Pemimpin tetap pemimpin. Para punggawa, semacam ahli geologis atau ahli lainnya memang sekedar pemberi keterangan, namun mereka tetap tau di mana mereka berdiri. Nice…

Ketika saya memperhatikan bagaimana Bahtera itu dibuat dan oleh siapa, lantas saja saya kagum. Kenapa? Jelas dilihat bahwa yang membuat empat bahtera giant itu adalah China. Pekerjanya pun orang China. Dalam pikiran saya kenapa China, ya?? Berarti China ini memang diperihitungkan menjadi bagian dunia yang kredibel dan diandalkan.

Sisi lain…? Ya, ada cuplikan kata-kata yang mengatakan bahwa ini awal kehancuran USA. Namun endingnya tetap aja orang-orang Barat yang selamet…hehehe… ya,,, namanya juga film mereka… ga mungkin juga lah menceritakan seluruh dunia, meskipun bisa aja…

‘Keberuntungan’ dan ‘Kebetulan’ yang kebetulan

Memang awalnya dikisahkan sudah muali terjadi tanda-tanda di tahun 2010. Sepertinya film ini mencoba menampilkan sisi ilmiah dan sisi suku Maya yang diceritaka telah tahu kejadian ini tentang bencana besar tahun 2012. Ya…begitulah alkisahnya. Aksinya cukup memikat. Hampir selama nonton, ga mau ada kehilangan momen, apalagi dasar filosofinya. Bisa ga ngerti sampai ending dah… Hal lainnya juga kalau diperhatikan adalah betapa kebetulan dan keberuntungan yang sangat-sangat ‘dibuat-buat’ nyambung gitu. Mulai dari Jackson yang membawa kedua anaknya liburan di kawasan restricted. Lalu pertemuannya dengan seorang ahli geologis dan peramal nyentrik di tengah kawasan hutan itu yang juga seorang penyiar. Lalu Gordon, suami baru istri Jackson yang ternyata bisa menerbangkan pesawat dua mesin, padahal dia bisanya satu mesin, itupun baru belajar, pertemuan anak presiden dengan si ahli geologis, apalagi pas Jackson kenal dengan bosnya yang orang Rusia itu. Lalu ditolong di daratan China yang juga ‘kebetulan’ mau pergi ke arah bahtera…dan so many lainnya yang bahkan naik ke bahtera sebagai penumpang gelap pun juga sangat kental dengan suasana kebetulan dan keberuntungan yang kentara. Padahal dunia seluas jagad raya ini bisa mempertemukan mereka dengan alur skenario yang sebatas movie. Hahaha…belum lagi si pilot Rusia yang dipanggil Sasha… bisa-bisanya ternyata dia pilot dan pake punya hubungan dengan teman wanitanya Bos Rusia yang kembar anaknya itu…Ampunnn…begitulah namanya film. Nampaknya nih film memang mengetengahkan faktor visual effect dan fiksi ilmiahnya. Grrr…

Masalah visual effect?? Keren. Cuma bagi saya masih keren Jurassic Park!! My favorite movie everrrRR…

Sorotan

Bagi teman-teman saya yang dah nonton. Ada aja namanya komentar. Ya yang bilang ga mungkin lah selamet tuh pesawat, trus masa yang hancur pas ada si Jacksonnya aja. Tempat lain ga ada…aneh..ah, katanya…

Ya namanya juga komentar. Ada aja. Bener khan,,,mengingat tulisan saya yang lalu tentang betapa ‘baik’ sesuatu atau seseorang pasti tidak lepas dari yang namanya komentar miring atau tegak…

Padahal ini film visual effectnya mantap banget. Kata sohib saya yang pade nonton juga ngeri, apalagi benerannya…MasyaAllah katanya! Tapi toh tetap aja ada sisi komentar miringnya.

Masalah larangan MUI? Hmm…saya baru dengar itu pas minggu-minggu ini setelah 2 atau 3 hari nonton. Menyesatkan katanya. Namun begini, menjelang akhir film 2012 yang saya tonton waktu itu, persis ketika adegan penanggalan yang baru, yang tebakan saya ternyata benar juga, kalau dalam film ini ada yang selamat, saya langsung berbisik pada sohib di sebelah kiri saya. Saya bilang begini, “Bu, ini mah namanya bukan kiamat!! Ini mah cuma bencana super duper dahsyat,,,gitu, Buu…! Orang ada yang selamat gitu, kok.

Jadi ketika kemudian ada larangan, sebenarnya malah membuat masyarakat tambah penasaran, lho. Nah…makin nyambung nih sama tulisan saya yang barusan saya posting. Tentang tindakan rekatif. Masyarakat harus paham di satu sisi ini jenis fiksi ilmiah, sementara di sisi lain, akidah kita juga musti kuat! Jangan menelan begitu saja isi cerita, misalnya masalah suku maya atau nilai-nilai lain yang diambil bukan dari nilai sebagai muslim. Itu wajar karena mereka yang membuat. Coba negara-negara muslim berpikir dengan mengangkat hal yang sama dan dahsyat sekalian tentang isi surat Al Insyiqaq, apa ga heboh tuch?? Jadi kalahkan mereka dengan level yang sama. Memperbesar volume begitu, sehingga dengan sendirinya pendengar akan mengarah pada volume yang lebih besar. Begitulah kira-kira my opinion.

Ya…selamat mengambil pelajaran sebijak mungkin…karena Anda adalah pembaca dan penikmat film yang cerdas memilih. Jangan sekedar ikutan, namun Anda punya prinsip sehingga ketika Anda ditanya, Anda tidak bilang, “ehmmmmmmmmmm…….ehmmmmmmm,……gimana ya? Katanya sih… blablabla….”  Itu mah ke laut aja.

None of us knows the end of the day...one thing for sure is the life after the disaster. Time elapses and goes on, till we know that we all have done the best for others we can.

None of us knows when...but something we must know that we have done the best we can for others and God

Tindakan Reaktif (?)

Manusia adalah makhluk unik yang bisa merespon apapun yang terjadi di sekelilingnya. Perubahan sekecil apapun pasti manusia akan merasakannya. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna.

Akal dan hati memang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ketika perasaan terlalu dominan biasanya akal sehat jadi hilang. Demikian pula bila sebaliknya, bila akal terlalu didahulukan tanpa mempertimbangkan perasaan, maka akan menimbulkan kesan hubungan yang hambar dan tidak manusiawi, seringnya.

Ada aksi biasanya akan ada reaksi. Reaksi kecil yang terasa sering juga ditanggapi reaksi yang terlalu besar. Juga sebaliknya, kadang reaksi yang sebenarnya besar, ada yang menanggapinya biasa saja. Itulah kembali bagaimana seninya manusia menyikapi diri atas lingkungannya. Nampaknya kepribadian manusia serta karakter itu memang luar biasa beragam. Biasanya yang sering menjadi masalah adalah bagaimana menyikapi aksi yang terjadi. Hasilnya bisa salah, bisa pula benar, bisa tepat bisa meleset. Bahkan yang lebih penting lagi adalah apakah reaksi yang kita berikan berdampak baik atau malah berimbas lebih buruk.

Hal penting yang harus kita cermati adalah bagaimana kita membuat tindakan yang produktif dan konstruktif, serta persuasif. Bila dilihat dari bagaimana tindakan muncul, ada dua macam. Tindakan reaktif dan tindakan terukur. Sespontan-spontannya sebuah aksi yang membutuhkan sebuah tindakan kita tetap harus memikirkan dampaknya.

Ada kisah nyata. Terjadi pada sekitar tahun 2003. Ada seorang wali murid yang melabrak seorang guru TK (sebut saja Bu Hanna) karena ia merasa guru ini tidak tahu cara mengajar yang benar. Padahal sang orangtua ini bukan juga seorang pendidik alias guru. Bu Hanna ini dimarahi habis-habisan di depan beberapa orangtua yang lain. Masalahnya, ia merasa si guru TK ini tidak bisa mengkondisikan seorang siswa yang memang luar biasa aktif, namun diakui memang cerdas. Anak ini tidak bisa duduk tenang. Namun bila ditanya dia pasti bisa jawab. Boleh dibilang, selama kelas berlangsung, kerjaannya hanya mondar-mandir dan bicara sendiri. Itu dilakukannya setiap kali dan setiap waktu.

Lantas sikap Bu Hanna itu bagaimana? Ia diam saja karena baginya tidak etis mempertontonkan caci dan maki di depan murid-muridnya. Ia tidak ingin muridnya mencap dirinya sama saja dengan sang orangtua yang begitu rupa mencaci dan menyatakan dirinya guru yang tidak tahu apa-apa. Sebagai manusia biasa, ia juga punya perasaan. Bisa terhina, bisa tersudut. Perasaan sedih dan hampa seketika memang menyelinap celah hatinya. Namun akalnya menuntunnya untuk tidak mengucapkan apa-apa selain anggukan kepala tanda bahwa ia menerima semua yang diucapkan orangtua yang tengah kesal itu.

Tindakan kita ditentukan oleh cara atau pola akal kita (mind set) dan bagaimana hati kita. Bila terencana, biasanya kita akan memikirkan akibatnya. Jangan malah menambah masalah dengan tindakan yang lahir dari sesuatu yang reaktif. Seringkali justru malah tidak langgeng karena kurang perhitungan.

Akan lebih indah dan baiknya bila kita menjadi pengamat yang baik sebelum kemudian menjadi komentator. Kebanyakan orang lebih suka memberi komentar. Bukannya memberi solusi atau minimal saran. Dengan demikian, aksi apapun yang terjadi, kita akan berusaha menjadi pengamat yang berpikir lebih luas sebelum berpikir tindakannya. Seperti helikopter yang terbang vertikal sebelum terbang. Semakin tinggi dari darat, semakin luas jarak pandangnya. Artinya, bila kita memperluas ruang masalahnya, kita akan melihat lebih luas lingkupannya sehingga kita akan melihat gambaran yang lebih besarnya. Kita jadi terhindar dari berpikir sempit.

Mulailah kita memberi kesempatan hati nurani kita bicara dan akal sehat kita mencari caranya sendiri yang alami, sehingga natural dan dampaknya akan jauh lebih applicable. Perihitungkan segala sesuatunya sedapat mungkin. Jangan sampai nafsu semata menjadi penuntun diri. Manusia diciptakan sempurna oleh Allah. Namun dalam perkembangan kompetensinya membutuhkan ujian akar kapasitasnya lebih mumpuni dan ke arah sempurna.

KEMANFAATAN BERSAYAP KETERATURAN & KETERORGANISASIAN

bee-flowerA bee…buzz…fly over my bee…No wonder that in the Holy Quran has written it and become one title.

Dalam sebuah rapat, salah seorang rekan baik saya tengah memberikan beberapa kalimat pembuka untuk membawa kami semua dalam alur pembicaraan yang tengah ia sampaikan. Sederhana. Judulnya tentang seekor hewan berkaki enam, bertubuh belang hitam-kuning dengan. Lincah terbang kian kemari. Ya, lebah namanya. Lebah adalah serangga istimewa karena secara istimewa pula Allah menjadikannya sebagai sebuah nama surat dalam kitab suci Al-Quran. Lebah tak pernah lepas kaitannya dengan bunga dan madu. Menyebutkan dua hal tadi saja kita pasti dapat membayangkan betapa bersihnya lebah ini. Makan madu dari bunga, keluarnya juga jadi madu. Tidak ada yang lain. Anda pun tahu pula betapa besar manfaat madu bagi kehidupan manusia khususnya kesehatan.

Dalam rapat kemarin, rekan saya ini menuturkan bahwa lebah adalah makhluk Allah SWT yang paling banyak manfaatnya. Dimanapun ia berada pasti membawa kebaikan dan manfaat. Demikian pula hendaknya kita manusia. Begitu ulasnya. Kita memilih mana hal yang lebih banyak manfaatnya mana yang belum perlu, mana yang ditinggalkan, mana yang dibuang, dan mana yang dijauhkan. Intinya, dalam keadaan apapun, kita sebagai manusia diharuskan berpikir untuk setiap tindakan yang kita pilih.

Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang bergelayutan dalam benak dan pikiran saya. Sampai-sampai berpikir apa sebenarnya yang terjadi. Di mana yang salah? Apa yang salah? Kelihatannya bermanfaat dan memang bermanfaat, namun entah mengapa ada hal yang di luar itu menjadikan otak berpikir ulang untuk melakukan sesuatu yang banyak orang harapkan.

Hmm…sederhananya begini.

Dalam sebuah lembaga atau organisasi, tentu ada pemimpin dan yang dipimpin, kan? Nah, selain itu, organisasi juga pasti memiliki apa yang kita kenal dengan sistem dan program kerja, kan?

Beberapa minggu kemarin, sekitar seminggu yang lalu, teman saya ‘diminta’ mengikuti sebuah pelatihan keterampilan yang ada hubungannya dengan berhitung. ‘Minta’nya tidak dalam keadaan dipanggil, namun setelah kerjaan selesai, ia dihampiri dan sedemikian tiba-tiba di’suruh’ begitu. Singkatnya taat saja dia. Usai mengikuti pelatihan itu, dua minggu ke depan, rekan saya harus mengikuti tes kelulusan level 1.

Masalahnya ada hal aneh yang menurut hemat saya selayaknya tidak terjadi. “Ujug-ujug” saja, ia didaulat menjadi tutor langsung melatih siswa sementara level yang ia ikuti saja belum jelas lulus atau tidaknya. Itupun melalui orang lain (koordinator yang ditunjuk).

Intinya, ada pemrograman sistem dan program kerja yang amburadul yang pada akhirnya menjadikan rekan saya terjebak dalam pilihan yang serba sulit. Bukannya dia tidak bisa memilih. Bisa. Hanya dilema. Di satu sisi, ia telah banyak tugas utama dan rencana ke depan yang berkaitan dengan waktu (planing). Belum lagi pekerjaan lain di luar jam kerja resminya. Jika memilih menerima, sepertinya berat nian terasa. Masalahnya tugas tambahan itu tidak diprogram di awal tahun kerja. Sementara ini di tengah perjalanan. Jika memilih tidak menerima, sudah dibiayai. Ada beban moral. Sementara hasil pelatihan itu memang manfaat benar. Suara nuraninya juga mengatakan demikian. Apa tega ia melepaskan? Meskipun ia bisa saja mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan?

Berat. Karena ia telah dibawa pada situasi yang demikian berat dan rumit serta dilematis untuk bisa memilih dengan tepat. Tidak ada sedikitpun ia ditanya lagi bagaimana hasil pelatihannya. Bahkan ia tidak diberikan gambaran akan dijadikan tutor sebelum mengikuti pelatihan tersebut. Ia pikir ia dianggap apa? Bukankan dalam lembaga apalagi resmi tetap memperhatikan jalur dan program kerja? Akhirnya ia seperti menjadi korban keadaan. Apalagi menurutnya, sedikitpun ia tidak dimintai kesediaannya bila pasca mengikuti pelatihan itu ia ””otomatis”” menjadi tutor. Kalau bisa ia memilih di awal, ia memilih tidak bersedia. Karena program yang ia emban saja banyak menyita waktu dan pikirannya. Bagaimana lagi jika ia menerimanya? Apa adil buatnya, pikirnya? Kalau seperti ini terus, ia pikir bagaimana kelanjutannya? Apakah sehat? Apakah akan muncul korban lainnya? Ia tak habis pikir bagaimana alur komunikasi atasan dan bawahan menjadi sesuatu yang ternyata bisa menjadikan bawahan lebih memahami keadaannya.

bee-nestMenyelami permasalahan  yang ada, saya melihat manfaat yang demikian besar dari dirinya, sebagaimana besarnya harapan orang di sekitarnya. Ketika sedikit terasa kurang nyaman baginya akhirnya apakah ada orang di sekitarnya yang memahami keadaannya? Orang lain hanya tahu dia good, fine, and so so. Namun manakala ia butuh sandaran seakan bebannya yang over loaded, tak ada seorang pun yang menyadarinya. Memang ada yang kurang pada tempatnya bila menilik dari kisahnya. Keadaan telah menempatkan dirinya pada sebuah pilihan yang sulit. Bisa-bisa saja ia menerima, namun masalahnya tidak dengan prosedur yang menurutnya dianggap pas.

Menyambung masalah lebah. Manfaat lebah memang luar biasa. Beribu manfaat dari lebah. Usai rapat saya meneruskan pembicaraan saya dengan rekan saya tadi. Saya senang dengan apa yang dia sampaikan. Saya mengajukan pertanyaan sederhana padanya. Karena saya ingat kisah yang sebelumnya saya gambarkan. Memang lebah mampu memberi manfaat yang sungguh luar biasa. Saya bertanya, “Bapak tahu tidak lebah mana yang memberikan madu? Apa Bapak tahu ada ratu dan pekerja? Apa Bapak tahu mengapa lebah demikian baiknya dalam bekerja?”

Rekan saya ini nampak berpikir sejenak. Membaca kesannya yang agak sulit menemukan kata-kata, akhirnya saya tanyakan apakah saya boleh berpendapat? Ia jawab boleh.

Sederhana, Pak. Lebah bisa begitu nyaman dan rapi dalam bekerja karena mereka TERORGANISIR dengan sangat sempurna. Siapa lagi yang mengorganisir mereka sedemikian hebatnya, kalau bukan yang Mencipta mereka??

Artinya apa, Pak? Memberi manfaat itu memang sebuah keharusan sebagai makhluk hidup di mana pun dan siapa pun ia. Namun sebuah KETERATURAN yang TERORGANISIR akan membuat kemanfaatan jauh lebih KONTINYU dan KONSISTEN. Bukankah jika kita bicara program kerja maka itu berkaitan dengan WAKTU?? Nah, bila tidak mulai diorganisir mau sampai kapan sebuah jamaah atau lembaga atau komunitas apapun dapat bertahan? Bisa saja dipaksakan, namun sampai kapan? Pantas saja jika banyak manusia masih sering mengerjakan sesuatu namun seringkali TIDAK EFISIEN.

Brick royalty redSebuah bangunan akan indah bila terasa manfaatnya. Namun kemanfaatan itu belum sampai terasa bila bangunan tersebut belum TERATUR. Lihat batu bata penyusun rumah. Apa ada yang tidak teratur? Jadi keteraturan dan ‘keterorganisiran’ adalah unsur penting agar kemanfaatan dan nilai-nilai keluar dengan sebagaimana mestinya. Sebuah lembaga selayaknya bisa membangun hal mendasar ini agar apa yang seharusnya bisa bermanfaat tidak menjadi hambar hanya karena langkah yang terbiasa ‘responsif’ pada tuntutan luar, meski tidak semua tuntutan luar itu belum pas. Wallahu’alam.