Ck…Ck…Makanan oh Makanan, Esensi Ramadhan?

dinner_tableSore ini, day-4 in Ramadhan. Saya baru beranjak pulang sekitar pukul 5 kurang. Sepanjang perjalanan, begitu banyak pojok-pojok tepian jalan yang dipadati pengendara motor atau orang yang hendak membeli penganan berbuka. Ya, sekalian ngabuburit katanya, mah. Berulang setiap Ramadhan pemandangan ini kerap terlihat di sekitar kita. Bahkan di televisi berlomba-lomba meliput berbagai pasar Ramadhan yang ada di seputar Jakarta atau kota besar lainnya, dan daerah di pelosok negeri kita, Indonesia. Bahkan malah menjamur sampai menggadaikan barang segala hanya untuk meraih sedikit ‘berkah’ atau untung dengan berdagang makanan berbuka.

Banyak makanan yang saya ingat, semasa kecil. Masih ingat dong makanan kebangsaan Indonesia yang satu ini?

Bakwan

Ini makanan favorit orang Indonesia umumnya. Jarang absen dalam acara berbuka. Luar biasa!

Bagaimana dengan ini?

kolak

Candil

Hampir semua orang menghadirkannya!!

Apalagi yang satu ini:

Es-Es es campur es-blewah

Wuuiih….es, es, dingin, dingin, jarang orang rela tidak mengghadirkannya!

Belum lagi yang ini!

Bihun goreng

Hmmm…selalu jadi sasaran paling empuk…!

Dan masih berjuta penganan lainnya yang memenuhi pikiran orang kebanyakan tentang berbuka puasa…

Alhamdullillah, selama tidak berlebihan dalam menyikapinya kita bisa menjadi lebih mampu memahami esensi berbuka. Ramadhan menjadi tren setter makanan keluaran terbaru. Memang tidak salah. Asal tidak berlebihan (israf). Karena nafsu bisa melebihi apa yang seharusnya. Hilanglah esensi pengendalian diri bila pada akhirnya waktu berbuka kita malah disibukkan dengan membeli penganan satu per satu setiap harinya.

Bagi saya selama ini Alhamdulillah, dengan menyadari pentingnya pengendalian diri dan nafsu, cukuplah ini sebagai peneman kami sekeluarga berbuka :

teh

Secangkir teh manis hangat…ditemani satu atau dua penganan,

kurma

Beberapa butir kurma… dan …

air di gelas

Segelas air pelepas dahaga

Semoga kita semua bisa memaknai esensi Ramadhan, khususnya berbuka puasa dengan tidak berlebihan dan terlalu kepikiran dengan makanan. Kalau anak kecil, wajar lah. But Us? Pleease….make it better. Karena secukupnya itu menenangkan. InsyaAllah…

Iklan

2 responses to this post.

  1. Bagus sekali….. Setuju mang!
    Jangan sampai tererumus ke dalam hidup sia-sia seperti syair ini :

    Siang hari berpuasa dengan ikhlas
    Sore hari berbuka dengan nafsu

    Menahan diri selalu lebih baik.

    Salam hormat.

    Balas

  2. Ijin kopi gambar makanannya ya…

    Suwun…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: