Malam kemarin, Senin, saya masih di angkot dalam perjalanan pulang. Waktu menunjukkan pukul hampir 9 malam. Seharian itu saya dengan teman-teman usai menonton Sang Pemimpi. Tadinya mau pulang saja. Tapi ternyata informasi dari teman lainnya, kita semua ditunggu di rumah seorang Ketua Komite Siswa. Pak Romi namanya. Beliau adalah sosok yang sangat ramah dan peduli dengan kami semua. Ya, singkatnya banyak pembicaraan kami masih tersisa hangat dalam ingatan saya sewaktu pulang malam itu.
Sebenarnya saya tidak terlalu duduk dekat belakang supir. Ketika satu per satu penumpang mulai turun, saya duduk mulai agak mendekat dengan pak supir. Saya baru mendengar jelas ketika saya menyadari ada penumpang yang turun.
“Terima kasih.” ucap sang supir.
Si penumpang hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
Ya, saya masih tertegun. Hingga seorang bapak setengah baya turun. Kemudian ia menyodorkan uang seribuan.
“Terima kasih.” ucap sang supir lagi.
Lagi, si bapak setengah baya itu agak kikuk atau heran, entahlah. Yang jelas saat angkot yang saya naiki berlalu, saya melihat untaian senyum mengembang darinya. Padahal lumayan tegang juga wajah si bapak ini. Saya merasakan penghargaan yang luar biasa, lho! Apa sih artinya terimakasih bagi si supir ini? Apa untungnya coba? Padahal uang yang dia terima pun paling hanya bilangan 1000 sampai 2000 rupiah? Saya yakin bukan cuma saya yang mendengar sang supir bilang terima kasih. Saya yakin penumpang lainnya juga demikian.
Malam itu saya belajar bagaimana ucapan terima kasih itu datang dari seorang yang sederhana dan mungkin bukan orang yang perlente yang tampil eksentrik sebagaimana penumpang biasanya berpenampilan. Toh banyak supir yang boro-boro bilang terima kasih, ada juga sumpah serapah dan kekesalannya pada saingan lain yang akhirnya ditumpahkan pada penumpang. Atau bila tidak ditumpahkan pada penumpang, biasanya kesal hingga harus ngebut ga karuan.
Kata terima kasih itu adalah afirmasi positif yang luar biasa yang tidak mungkin bagi siapapun yang mendengarnya malah kesal atau malah tidak terima. Tidak mungkin. Para penumpang yang mendengar ucapan terima kasih dari si supir ini pasti akan belajar menghargai setiap orang yang berhubungan dengannya. Sekalipun seorang supir yang mungkin kita pernah pandang sebelah mata. Padahal bagaimanapun ia berjasa mengantarkan kita hingga ke tempat tujuan dan itulah gunanya kita membayarnya, kan?
Jadi, berterima kasihlah kepada siapapun yang berbuat baik pada kita. Siapapun, meskipun seorang anak kecil yang telah berbuat baik pada kita. Dengan demikian dunia akan terasa penuh kasih dan damai. Insya Allah…
Ketika tiba di ujung gang rumah saya, saya minta supir menepi dengan bahasa umumnya. Si supir menanggapi dengan positif. Ia menepi. Lalu dari belakangnya, bukan setelah turun, saya menyodorkan uang 2000 rupiah lebih dulu dan langsung mengucapkan terima kasih. Persis saya mengucapkannya pun si supir ini mengucapkannya juga. Hmm…itulah kehidupan saling menghargai.